Sunday, October 2, 2016

Pengantar Psikologi Klinis

Kali ini saya akan menulis rangkuman dari buku yang berjudul “Psikologi Klinis” yang ditulis oleh Suprapti Slamet I.S dan Sumarmo Markam yang diterbitkan pada tahun 2003. Waaoow lama sekalii yaa bukunyaa. Yaaa meskipun sudah lama bukunya tapi saya tertarik buat baca. :D
LATAR BELAKANG PSIKOLOGI KLINIS
Psikologi Klinis termasuk salah satu bidang psikologi terapan selain Psikologi pendidikan, Psikologi Industri, dan lain-lainnya. Psikologi klinis menggunakan konsep psikologi abnormal, psikologi perkembangan, psikopatologi dan psikologi kepribadian yang berguna untuk dapat memahami dan memberi bantuan kepada seseorang yang mengalami masalah-masalah psikologis, gangguan penyesuaian diri dan tingkah laku abnormal.
Definisi dan Ruang Lingkup Psikologi Klinis
Psikologi klinis dapat diartikan secara sempit maupun secara luas. Secara sempit, Psikologi klinis tugasnya adalah mempelajari orang-orang yang abnormal atau subnormal. Tugas utamanya adalah menggunakan tes yang merupakan bagian dari suatu pemeriksaan klinis yang biasanya dilakukan di rumah sakit.
Secara luas, Psikologi klinis adalah bidang psikologi yang membahas dan mempelajari kesulitan-kesulitan serta rintangan-rintangan emosional pada umumnya yang dirasakan oleh manusia, tidak memandang apakah itu abnormal atau subnormal.
Menurut Phares (1992) seperti yang dijelaskan dalam buku, psikologi klinis menunjuk pada bidang yang membahas kajian, diagnosis, dan penyembuhan (treatment) atau tingkah laku abnormal.
Psikologi Klinis, Bidang-bidang Kajian Terkait, dan Profesi-profesi Pemberi Pertolongan (Helping Professions) Lainnya
Yap Kie Hien (1968) yang dijelaskan di dalam buku ini mengemukakan bebrapa istilah lain untuk “Psikologi Klinis.” Istilah-istilah tersebut adalah Psikopatologi, Psikologi Abnormal, Psikologi Medis, Patopsikologi dan Psikologi Mental Health.
Psikopatologi, adalah bidang yang mempelajari patologi atau kelainan dari proses kejiawaan. Istilah ini biasanya digunakan dalam lingkungan psikiatri. Seorangg psikologi klinis harus menguasai psikologi untuk dapat berhasil dalam pekerjaan diagnostiknya.
Psikologi Medis, merupakan suatu penjabaran dari psikologi umum dan psikologi kepribadian untuk ilmu kedokteran. Yang mempunyai tujuan untuk melengkapi pengetahuan seorang dokter tentang gambaran biologi manusia dengan gambaran kehidupan kejiwaan fungsi-fungsi psikis, berpikir, pengamatan.
Psikologi Abnormal, nama ini diciptakan oleh psikolog-psikolog yang ingin mengklasifikasikan keadaan yang tidak normal yang mungkin terjadi pada individu.
Psikologi Konflik dan Pato-Psikologi, kedua nama tersebut diusulkan untuk menunjukkan bahwa seseorang yang membutuhkan pertolongan psikolog tidak selalu ‘sakit’. Pertolongan psikolog seperti ini dapat diberikan kepada mereka yang mengalami kesulitan, misalnya konflik, ketegangan, dan sebagainya yang dapat mengganggu keseimbangan.
Mental Health dan ‘Mental Hygiene’, Istilah mental hygiene lebih dekat dengan bidang kedokteran. Mental hygiene bertugas mempertahankan dan memelihara kesehatan mental dan mencegah terjadinya gangguan mental, membahas tentang bagaimana mempertahankan dan memelihara kesehatan mental dan mencegah terjadinya gangguan mental.

MASALAH NORMAL, ABNORMAL DAN PATOLOGI
Berikut ini ada empat kasus yang akan saya bahas sesuai dengan bebrapa sudut pandang untuk penilaian normalitas:
1.         Seorang ibu mengeluh tentang putra remajanya (L) yang duduk di kelas 11 SMA. Menurut ibu, L tidak peduli karena ia tidak mau tahu apa yang terjadi di luar kamar tidurnya. Tiap pulang sekolah L langsung masuk kamar, dan hanya keluar untuk makan atau keperluan pribadinya. Ia tidak mau mengantar adiknya ke dokter, dan ia tidak peduli apakah ada tamu atau keluarga yang datang berkunjung.
2.         Seorang mahasiswa (M) mengeluh tentang nilainya yang tidak memuaskan, padahal ia sudah belajar secara intensif. Teman-temannya yang belajar asal-asalan dan menyontek justru mendapat nilai lumayan. M bertanya apakah ia lebih baik menyontek karena menurut M menyontek adalah hal yang sudah umum
3.         Seorang mahasiswa (N) sering gemetaran menghadapi teman-teman yang sering mengejeknya. N telah berusaha melawan perasaan cemas tersebut, namun belum juga berhasil. Akibatnya N sering menyendiri dan tidak mempunyai teman.
4.         Ibu (O) merasa bahwa sejak hamil anak ketiga, ia dapat merasakan apa yang terjadi di masa depan. Misalnya hanya dengan melihat wajah orang, O tahu orang itu baik atau jahat. Hal tersebut tekadang membuat O semakin terganggu. Ia mengaku bahwa kemampuan melihat masa depan seperti itu juga dimiliki ibunya sebelum meninggal. Menurut cerita keluarganya, ibunya masih ada hubungan dengan kyai sakti dari Surabaya.

Berikut ini akan dibahas hal-hal yang perlu dipertimbangkan sebelum psikolog menilai tentang abnormal, patologis atau sakit tidaknya seseorang. Ada kecenderungan untuk mengelompokkan individu-individu yang normal dan sehat jiwa di satu pihak, dan yang abnormal, berkelainan, patologis dan sakit di pihak lain.
Ada dua pendekatan yang berbeda dalam membuat pedoman mengenai normalitas yaitu pendekatan kuantitas dan pendekatan kualitatif.
·           Pendekatan Kuantitatif
Pendekatan kuantitatif didasarkan atas sering atau tidaknya sesuatu yang terjadi, yang diperkirakan secara subjektif mengikuti pemikiran awam. Misalnya anggapan bahwa pria berambut gondrong adalah normal dan biasa. Anggapan semacam ini didasarkan atas perkiraan subjektif.
·           Pendekatan Kualitatif
Pendekatan yang kedua adalah pendekatan kualitatif. Pendekatan kualitatif yaitu menegakkan pedoman-pedoman normatif yang tidak berdasarkan perhitungan atau perkiraan awam, tetapi atas observasi empirik pada tipe-tipe ideal.  
Patokan-patokan kualitatif ini sangat terikat dengan keadaan social-budaya setempat dan menggunakan kriteria penilaian kualitatif atau tipe ideal yang memperhatikan keadaan social-budaya setempat.

Berdasarkan kedua pendekatan kualitatif dan kuantitatif, kasus L dan kasus M dapat ditelaah: Pada contoh kasus L, perilaku L yang kelas 11 SMA tidak sesuai dengan apa yang idela menurut ibunya. Tampaknya remaja yang berperilaku demikian cukup banyak. Jika dalam prestasi sekolah dan hubungan antarmanusia (selain di rumah) tidak ada hal-hal yang menganggu, maka kasus L secara kuantitatif dapat dianggap normal meski tidak ideal. Ini bukan berarti perilaku seperti itu tidak perlu diubah. Pada kasus M, perilaku menyontek adalah sesuatu yang dapat dikatakan sebagai menyimpang dalam arti ‘patologis’, meskipun diperkirakan oleh M banyak terjadi dan dianggap sebagai ‘normal’ secara kuantitatif. Tetapi tentu saja tidak akan dianjurkan kepada M untuk melakukan kegiatan yang menyimpang seperti itu.

Normal Menurut Stern (1964)
Stern mengusulkan untuk memperhatikan 4 aspek untuk menilai normal atau tidaknya seseorang, yaitu:
a.    Daya Integrasi
Daya integrasi adalah fungsi ego dalam mempersatukan, mengkoordinasi kegiatan ego ke dalam maupun ke luar diri. Makin terkoordinasi dan terintegrasi suatu perilaku atau pemikiran, makin baik.
b.    Ada atau tidaknya simtom gangguan
Ada atau tidaknya simtom atau gejala gangguan merupakan pegangan yang paling jelas dalam mengevaluasi kesehatan jiwa secara kualitatif. Ini dinamakan juga pendekatan medis.
c.     Kriteria psikoanalisis
Kriteria psikoanalisis memperhatikan dua hal untuk dipakai patokan dari kesehatan jiwa, yaitu tingkat kesadaran dan jalannya perkembangan psikoseksual. Makin tinggi tingkat kesadaran seseorang, maka semakin baik atau sehat jiwanya. Sebaliknya jika seseorang terlalu banyak dikuasai oleh alam tak sadar, maka berarti ia kurang sehat jiwanya.
Kekuatan pendekatan Psikoanalisis adalah cukup mendalami dan memperhatikan hal-hal khusus yang mungkin terjadi pada diri seseorang. Terdapat kelemahan dalam psikoanalisis adalah fungsi alam sadar terlalu diagungkan dan kemungkinan-kemungkinan yang memiliki arti positif dalam alam tak sadar tidak terlalu diperhatikan, terjadinya penyederhanaan berlebihan dalam menerangkan segala sesuatu yang terjadi di masa dewasa dengan mengembalikan ke masa lalu.
d.    Determinan sosio-kultural
Sosio-kultural berhubungan dengan lingkungan. Lingkungan seringkali memegang peranan besar dalam penilaian suatu gejala sebagai normal atau tidak. Menurut beberapa penelitian, ada hubungan antara jenis-jenis neurosis dengan keadaan sosial-ekonomi masyarakat. Pada masyarakat dengan tingkatan sosial-ekonomi yang tinggi lebih banyak terdapat psikoneurosis verbal, sedangkan pada tingkatan sosial-ekonomi rendah lebih banyak terdapat neurosis fisik.
Neurosis sering disebut juga dengan psikoneurosis adalah ketidakseimbangan mental yang dapat menyebabkan stress tetapi tidak seperti psikosis atau kelainan kepribadian. Neurosis tidak memengaruhi pemikiran rasional.

Normal Menurut Ulmann dan Krasner (1980)
Menurut Ulmann dan Krasner tingkah laku manusia tidak dapat dilihat secara dikotomis sebagai normal atau tidak normalnya seseorang, tetapi harus dilihat dalam hubungannya dengan suatu prinsip, di mana suatu tingkah laku merupakan hasil dari keadaan di masa lalu dan masa kini. Ia mengemukakan kesulitan-kesulitan untuk mendefiniskan abnormalitas secara statistik, medis, dan psikoanalitis serta sosiokultural terhadap abnormalitas. Definisi tersebut menghubungkan tingkah laku manusia dengan kompetensi, tanggung jawab atas perbuatan criminal serta komitmen. Definisi ini digunakan untuk menentukan apakah seseorang sudah harus dimasukkan ke rumah sakit jiwa, penjara, institusi khusus atau tidak.

Normal Menurut Gladstone (1978)
William Gladstone dalam bukunya Test Your Own Mental Health menguraikan pegangan pegangan praktis untuk menilai kesehatan mental diri sendiri. Ia mengusulkan untuk menilai 7 aspek yang merupakan tingkah laku penyesuaian diri (adaptability) yaitu: ketegangan, suasana hati, pemikiran, kegiatan (aktivitas), organisasi diri, hubungan antarmanusia, dan keadaan fisik.

SEBAB-SEBAB TINGKAH LAKU ABNORMAL DAN KLASIFIKASI GANGGUAN JIWA SEBELUM DSM III

Coleman (1984) seperti yang dijelaskan dalam  buku ini membahas beberapa perspektif penyebab tingkah laku abnormal dengan membedakan antara penyebab primer, penyebab predisposisi, penyebab yang mencetuskan dan penyebab yang menguatkan (reinforcing).
Penyebab primer adalah kondisi yang harus dipenuhi agar suatu gangguan dapat muncul, meskipun dalam kenyataan gangguan tersebut tidak atau belum muncul. Penyebab predisposisi adalah keadaan sebelum munculnya suatu gangguan yang merintis kemungkinan terjadinya suatu gangguan di masa yang akan datang. Penyebab yang mencetuskan ialah suatu peristiwa yang sebenarnya tidak begitu parah namun seolah-olah merupakan sebab timbulnya perilaku abnormal itu. Penyebab yang menguatkan (reinforcing) adalah peristiwa yang terjadi pada seseorang yang memantapkan suatu keadaan atau kecenderungan tertentu, yang telah ada sebelumnya.
Kebanyakan tingkah laku abnormal adalah hasil dari tekanan (stress) yang bekerja pada seseorang yang memiliki suatu diathesis untuk jenis gangguan yang akan muncul kemudian. Diatesis adalah perisposisi (dalam aspek biologis, psikososial dan sosiokultural) untuk berkembangnya suatu gangguan tertentu di masa yang akan datang.
Frustasi, Stres dan Penyesuaian Diri

Sepanjang masa perkembangan dari lahir hingga dewasa, kebutuhan-kebutuhan seseorang tidaklah selalu terpenuhi dan sering kali terjadi hambatan dalam rasa puas untuk suatu kebutuhan dan keinginan. Keadaan terhambat tersebut dinamakan frustasi. Keadaan frustasi yang berlangsung terlalu lama dan tidak dapat diatasi oleh seseorang akan dapat menimbulkan stress. Stres adalah suatu keadaan di mana beban yang dirasakan seseorang tidak sepadan dengan kemampuan untuk mengatasi beban tersebut.
Seseorang dapat melakukan bermacam-macam cara penyesuaian diri untuk mengatasi berbagai macam stress tergantung dari kemampuan yang dimiliki, pengaruh-pengaruh lingkungan, pendidikan, dan bagaimana ia mengembangkan dirinya. Dan adapun langkah yang dapat dilakukan untuk penyesuaian diri terhadap stress yaitu:
·      Menilai situasi stress, yaitu menggolongkan jenis stress (kategorisasi), dan memperkirakan bahaya yang berkaitan dengan stress itu
·      Merumuskan alternatif tindakan yang dapat dilakukan dan menentukan tindakan yang paling mungkin untuk dilakukan
·      Melaksanakan tindakan adalah langkah yang paling sukar
·      Melihat feedback

Interaksi Antara Bawaan-Lingkungan dan Terbentuknya “Aku” (Self)

Faktor-faktor bawaan yang dapat dilihat dari ciri fisik dan juga ciri reaksi primer yang dimiliki oleh seseorang. Ciri fisik seperti warna kulit, mata, rambut, selain ciri fisik dan untuk ciri reaksi primer seperti kepekaan, adaptabilitas, dan aktivitas.
Lingkungan dapat berupa lingkungan fisik (keadaan rumah, udara, gizi) dan lingkungan social-budaya (orang tua, sekolah, pesantren, dan kelompok lainnya). Lingkungan sosial dapat memberntuk perilaku dan sikap seseorang yang diharapkan dalam suatu lingkungan budaya.
Interaksi antara bawaan dan lingkungan terjadi secara terus menerus dan lambat laun menumbuhkan perasaan adanya “Aku”. “Aku” menjadi, pusat aktif yang mengarah pada diri sendiri, menentukan tindakan, tujuan yang ingin dicapai. “Aku” mengintegrasikan perasaan, pemikiran, dan tindakan seseorang. Melalui proses belajar, “Aku” memperkirakan yang ada untuk mengenali realitas, nilai-nilai, dan lebih mengembangkan diri. Dengan melalui proses belajar, maka “Aku” individu dengan lingkungan dapat mengatasi dengan baik atau tidak dapat diatasi dengan baik pada saat timbulnya stress.

Pentingnya Pengalaman Masa Dini dan Asuhan Keibuan (Mothering)

Deprivasi atau keterlantaran yang dalam hal kasih sayang ibu di masa dini, atau trauma psikis yang terjadi di masa dini dapat memengaruhi kepribadian seseorang (emosi, sikap, predisposisi) yang berakibat jauh ke masa depannya sehingga sangat dibutuhkan adanya pengasuhan oleh ibu.
Mothering atau pengasuhan anak oleh ibu di masa kecil serta pengaruhnya dalam perkembangan emosi anak. Hal tersebut telah diselidiki oleh Yarrow dan Ribble yang dijelaskan di dalam buku ini.

Pola Hubungan Keluarga dan Keluarga Patogenik

Contoh pola hubungan keluarga yang patogenik misalnya anak yang terlalu dilindungi atau dibatasi aktivitasnya oleh orang tua, pemanjaan dan pemenuhan kebutuhan secara berlebihan, tuntutan terhadap anak yang tidak realistic atau terlalu berat, kegagalan berkomunikasi. Akan tetapi Coleman memberikan 4 contoh dari apa yang disebutnya sebagai keluarga patogenik yaitu keluarga yang tidak mampu menyelesaikan masalah-masalah keluarga sehari-hari, keluarga terganggu (keluarga yang membuat suasana di rumah dalam ketegangan emosional terus menerus), keluarga antisosial, dan yang terakhir adalah keluarga terpecah.

Klasifikasi Tingkah Laku Abnormal

Buku ini menjelaskan bahwa Henderson dan Gillespie (1956) menguraikan bebrapa jenis klasifikasi gangguan jiwa sebagai berikut:
·      Klasifikasi Psikologis
Dikemukanan oleh Linneaus, Arnold, Pritchard, Heinroth, Bucknill&Tuke, Ziehen (dalam Henderson et. al., 1956)
-          Linneaus membedakan antara ganguan-gangguan dalam ide, imajinasi dan emosi
-          Arnold membedakan antara gangguan ‘ideal’ dan ‘notional’ atau dalam fungsi persepsi dan imajinasi, serta gangguan dalam bidang konseptual/pemikiran
-          Pritchard membedakan antara ‘moral-insanity’ dan ‘intelectual insanity
-          Heinroth membedakan antara gangguan dalam pengertian, gangguan dalam kehendak, dan gangguan campuran
-          Bucknill&Tuke membedakan antara gangguan intelek dan gangguan afektif (emosi) yang selanjutnya dibagi menjadi gangguan afektif moral dan afektif animal
-          Ziehen membedakan antara gangguan tanpa efek atau kerusakan intelektual dan gangguan dengan efek intelektual baik dari lahir maupun yang diperoleh kemudian
·      Klasifikasi Fisiologis
Tuke, Maynart, Wernicke (dalam Henderson et. al., 1956) mengemukakan sistem klasifikasi sebagai berikut:
-          Tuke  mengadakan pembagian gangguan atas gangguan fungsi sensorik, fungsi motorik, dan ide
-          Maynart membagi kelainan tingkah laku menurut 3 penyebab yaitu perubahan anatomis, gangguan gizi, dan intoksikasi atau keracunan
-          Wernicke membuat asumsi-asumsi psikofiologis antara lain bahwa tiap isi kesdaran tergantung pada seperangkat elemen tertentu
·      Klasifikasi Etiologis
Klasifikasi etiologis ini yang dimaksud adalah pengelompokkan sesuai dengan gangguan fisik yang dapat menyebabkan penyakit jiwa
·      Klasifikasi Simtomatologis
Metode klasifikasi simtomatologis yaitu mencari gejala-gejala dan menyimpulkan jenis gangguan berdasarkan gejala-gejala tersebut. Metodenya merupakan metode yang paling penting dalam psikiatri.
·      Klasifikasi Mutakhir

Diagnosis Tingkah Laku Abnormal

Ada beberapa konsep yang perlu diketahui untuk mendiskripsikan suatu keadaan abnormal yakni: disfungsi, keadaan, dan sifat. Suatu keadaan abnormal belum tentu merupakan gangguan ataupun penyakit mungkin saja hanya merupakan suatu keadaan  yang bersifat sementara, suatu disfungsi, yakni tidak atau kurang berfungsi salah satu kemampuan atau ekspresi dari suatu sifat kepribadian.


TEORI-TEORI KEPRIBADIAN DAN PSIKOLOGI KLINIS

Teori kepribadian melandasi cara-cara pendekatan terhadap gangguan penyesuaian diri. Teori kepribadian menjelaskan bagaimana terjadinya gangguan itu, apakah makna dari penyimpangan atau gangguan itu, dan bagaimana mengubahnya. Cara-cara pendekatan tersebut akan membahas aspek-aspek kepribadian mana yang telah stabil dan bagaimana pemahaman perbedaan ekspresinya dalam tingkah laku seseorang.
Terdapat empat pendekatan untuk memahami gangguan penyesuaian diri atau tingkah laku abnormal, yaitu:
·      Pendekatan Psikoanalisis/ Psikodinamik
Pendekatan psikoanalisis atau psikodinamik menganggap bahwa tingkah laku abnormal disebabkan oleh factor-faktor intrapsikis (konflik tak sadar, represi, mekanisme defensif) yang mengganggu penyesuaian diri. Biasanya psikoanalisis melakukan interview sebagai cara pendekatan dimaksudkan untuk mengungkap hal-hal yang tersembunyi atau tidak sadar, yaitu pengalaman-pengalaman masa lalu yang traumatic atau yang menimbulkan fiksasi.
·      Pendekatan Belajar
Orientasi belajar dalam pendekatan dan penyembuhan gangguan jiwa didasarkan atas teori-teori belajar, antara lain prinsip-prinsp kondisioning klasik, kondisoning operan, dan belajar social. Salah satu asumsi model belajar untuk memahami gangguan jiwa adalah bahwa gangguan jiwa merupakan respons yang tidak cocok yang terbentuk melalui proses belajar dan dapat bertahan karena adanya penguat yang mempertahankannya.
·      Pendekatan Humanistik
Menurut tokoh-tokoh humanistic beranggapan bahwa manusia adalah makhluk yang tingkatanyya tinggi, mempunyai kebebasan untuk menentuka apa yang diinginkan, mempunyai bakat yang baik yang seringkali ditekan pemunculannya oleh lingkungan sekitar. Pendekatan ini bertentangan dengan teori psikoanalisis dan pendekatan belajar karena dalam pendekatan psikoanalisis dianggap terlalu merendahkan harkat manusia, dan dalam pendekatan belajar karena manusia seolah-olah disamakan dengan hewan, tidak memiliki kebebasan, dan tidak mempunyai kehendak sendiri
·      Pendekatan Sosiokultural
Pendekatan sosiokultural beranggapan bahwa tingkah laku abnormal disebabkan bukan karena faktor-faktor dalam diri pribadi individu melainkan oleh keadaan lingkungan khususnya lingkungan sosial dan kultural. Misalnya lingkungan sosial seolah-olah menekan seseorang untuk bertindak di luar batas kemampuannya, demi mendapatkan sesuatu yang dituntut oleh lingkungan tersebut. Bila tidak berhasil maka ia akan mendapat julukan yang serba negatif yang akhirnya akan mendapatkan tekanan dalam jiwanya.
Interview dan observasi dalam pendekatan ini dilakukan terutama ke luar diri individu yang bermasalah, misalnya norma masyarakat yang tinggal di sekitar individu, keadaan ekonomi dan sosial keluarga

Empat pendekatan di atas dapat dilakukan sesuai dengan kecocokan kasusu yang dihadapi. Ada kalanya suatu kasusu lebih cocok untuk dianalisis menurut suatu pendekatan tertentu. Dan ada kalanya dapat dilakukan pendekatan elektik, yaitu menerapkan beberapa pendekatan sekaligus pada aspek-aspek yang berbeda dalam pemahaman kasus.

PSIKOFARMAKOLOGI

Pendekatan Medik, Biospsikologi, dan Psikofarmakologi

Seorang neurology-psikiater yang sangat percaya pada orientasibiologis akan mengatakan bahwa Pendekatan medis tidak mengenal gangguan atau penyakit jiwa yang ada ialah “penyakit otak.”
Bidang kajian yang membahas kedekatan antara psikologi dan biologi diberi nama salah satunya yaitu Biopsikologi. Biopsikologi sendiri terdiri dari 5 kajian yang lebih khusus yaitu: Psikologi Faal, Psikofarmakologi, Neuropsikologi, Psikofisiologi, dan Psikologi Komparatif.
Psikologi Faal membahas dan memnipulasi sistem saraf melalui pembedahan, pelistrikan, dan cara kimiawi dalam setting eksperimental, di mana subjek yang diteliti adalah hewan.
Psikofarmakologi  mempelajari efek obat pada perilaku manusia dan bagaimana efek ini terjadi melalui perubahan aktivitas neural (saraf)
Neuropsikologi adalah kajian tentang behavior deficits yang diakibatkan oleh kerusakan otak manusia.
Psikofisiologi hamper sama dengan psikologi faal, namun lebih merupakan kajian non-eksperimental dan tidak selalu membahas tentang hewan.
Psikologi Komparatif memperlajari perbandingan fungsi dan struktur otak pada manusia dewasa, aak, dan kadang-kadang hewan itngkat tinggi hingga tingkat rendah.
Disini kita akan membahas tentang psikofarmakologi. Psikofarmakologi memperlajari tentang penggunaan obat pada penyakit jiwa seseorang yang biasanya diberikan oleh seorang dokter. Ada beberapa hal yang mungkin terjadi yang berkaitan dengan penggunaan obat psikotropika yang diberikan oleh dokter yaitu:
·         Ada kalanya pasien mengurangi dosis yang dianjurkan dengan alasan terganggu oleh rasa kantuk yang disebabkan obat. Beberapa pasien lain menganggap bahwa dengan sekali minum obat mereka akan sembuh. Ini menyebabkan obat yang sudah tepat diberikan oleh dokter pun tidak akan ada gunanya
·         Pemberian obat psikotropika haruslah sesuai dengan dosis tertentu dan memperhatikan efek samping yang mungkin terjadi. Bila suatu obat tidak cocok, maka pasien perlu kembali ke dokter yang sama untuk meminta/mendapatkan penjelasan mengenai kerja obat tersebut. Kalai perlu dokter akan memberikan obat pengganti
·         Beberapa pasien atau keluarga pasien sangat percaya pada obat sehingga melalaikan psikoterapi. Yang perlu diingat adalah bahwa tujuan dari pemberian obat psikotropika ialah menghilangkan atau mengurangu gejala sasaran bukan menyembuhkan
·         Beberapa pasien lain tidak mengkonsumsi obat psikotropika karena takut akan mengalami ketergantungan. Pasien-pasien ini selalu menghindar dari psikiater. Beberapa bahkan memilih untuk mengambil pengobatan alternative.
Gejala Sasaran (Target Symptoms) dalam Pengobatan Gangguan Jiwa
Berikut adalah beberapa gejala sasaran untuk beberapa gangguan jiwa
Gangguan Depresi
·      Simtom neurovegetatif (tidur, nafsu makan, dan lain-lain)
·      Simtom Psikomotor (Ekspresi wajah, tangan, tubuh secara keseluruhan)
·      Perubahan suasana hati (Dari depresi menjadi irritable)
·      Perubahan konsentrasi, atensi, dan memori
·      Pikiran depresif, rasa bersalah, ruminasi (terus-menerus mengingat hal-hal tak enak dari masa lalu)
·      Simtom psikotik
Gangguan Mania
·      Kegiatan psikomotor yang tinggi (yang harus dikurangi)
·      Pressure of speech yaitu bicara cepat, mengalir dan penuh semangat, yang sulit dihentikan
·      Kurang tidur
Gangguan Psikosis
Gejala sasaran pada gangguan psikosis berhubungan dengan gejala atau simtom arousal, afek, aktivitas psikomotor, pikiran (formal dan isi), dan penyesuaian sosial. Simtom Arousal ditandai oleh insomnia, kecemasan, kewaspadaan, disorientasi. Simtom afek meliputi agresivitas, kecemasan, depresi, membual, kecenderungan bunuh diri. Gangguan motorik yang sifatnya tingkah laku agitasi akan cepat hilang namun hiperaktivitas, stereotyping. Simtom gangguan berpikir formal terbagi atas gangguan kelancaran berfikir dan simtom negatif.
Gangguan Cemas
Gejala dan sindrom sasaran dari gangguan cemas adalah pengalaman subjektif yang ditandai oleh keresahan/kekhawatiran juga ketegangan motoric, hiperaktivitas autonomic dan kewaspadaan. Gangguan cemas spesifik terdiri dari gangguan cemas umum, gangguan panic, fobia sederhana dan fobia social.
Efek Samping Obat Psikotropika
Efek samping obat psikotropika bermacam-macam antara lain terjadinya hipotensi ortostatik yaitu tekanan darah turun ketika seorang dalam posisi berdiri. Ada juga efek samping berupa gejala neurologic seperti tremor, parkinsonisme, dyskinesia. Adapun efek samping yang lainnya adalah gangguan autonomic, vegertatif atau hormonal seperti mengantuk, lelah, mulut kering, sukar kencing, konstipasi, gangguan menstruasi, perasaan mabuk.
Pengelompokan Obat Psikotropika
Dijelaskan dalam buku ini, Maramis mengelompukkan obat psikotropik dalam 4 kelompok:
·      Penenang (tranquilizer). Kelompok obat ini mempunyai efek anticemas, antitegang, dan atiagitasi.
·      Neuroleptik (melumpuhkan saraf). Memiliki efek antischizophrenia, anti-psikosa, dan juga anti-cemas, anti tegang, dan antiagitasi
·      Anti-depresan. Terdiri dari dua kelompok, kelompok timoleptika dan thimeretika. Kelompok pertama menurunkan depresi dan juga menimbulkan efek anti cemas, anti tegang, dan anti agitasi. Kelompok kedua mengurangi depresi dan mengaktivasi dan menghilangkan hambatan

·      Psikomimetika (meniru psikosis). Efek yang ditimbulkan adalah gejala psikotik yang reversible.
ASESMEN DALAM PSIKOLOGI KLINIS
Menurut Bernstein dan Nietzel (1980) yang dijelaskan di dalam buku ini, ada empat komponen dalam proses asesmen psikologi klinis yakni: 1) Perencanaan dalam prosedur pengumpulan data (planning data collection procedures); 2) Pengumpulan data untuk asesmen; 3) Pengolahan data dan pembentukan hipotesis atau image making dan 4) Mengkomunikasikan data asesmen baik dalam bentuk laporan maupun dalam bentuk lisan.
Prosedur pemeriksaan dalam psikologi klinis umumnya terdiri dari observasi, wawancara, dan tes yang dipilih sesuai dengan pertanyaan yang harus dijawab. Untuk efisiensi dalam proses pemeriksaan biasanya digunakan cara-cara yang dapat memberi informasi dengan keluasan (breadth, bandwidth) dan kedalaman (intensity, fidelity) yang cukup.
Pada saat akan melakukan pemeriksaan, sebaiknya disesuaikan dengan tahap perencanaan contohnya ditentukan bagaimana wawancara dilakukan dan informasi apa yang diutamakan. Demikian juga untuk observasi, perlu ditentukan metode dan fokus observasi. Temuan dari observasi dan wawancara yang telah dilakukan dapat digunakan sebagai sampel tingkah laku, sebagai penyerta tingkah laku, atau sebagai tanda dari adanya hal yang melandasi tingkah laku itu.
Wawancara dalam Pemeriksaan Psikologi Klinis
Wawancara untuk mendalami latar belakang masalah dan gangguan seseorang dinamakan wawancara klinis, yang kadang-kadang dianggap sama dengan wawancara mendalam (depth interview). Dinamakan depth interview karena ada asumsi bahwa latar belakang gangguan seseorang belum tentu sama dengan apa yang dikemukakan olehnya secara sadar, sehingga pewawancara kadang-kadang harus menggali lebih dalam. Wawancara klinis biasanya merupakan suatu bentuk cerita (narrative) yang diarahkan pada pengalaman klien.
Ada beberapa teknik bertanya yang dikemukakan oleh Wallen (1956) sehubungan dengan pengambilan anamnesis di mana teknik ini dapat digunakan sesuai dengan keperluan yang sesuai dengan situasi pemeriksaan. Teknik-teknik bertanya tersebut adalah:
·      Narrowing questions yaitu mulai dengan mengajukan pertanyaan luas, kemudian disusul dengan pertanyaan yang lebih mendetail
·      Progressing questions yaitu mulai dengan memberikan pertanyaan tentang suatu yang dekat dengan apa yang sesungguhnya ingin diketahui, kemudian menyusul pertanyaan yang secara progresif mengarah pada hal yang sesungguhnya ingin diketahui.
·      Embedding questions ialah menyembunyikan pertanyaan yang lebih signifikan, ke dalam pertanyaan yang lain.
·      Leading questions yakni memberikan pertanyaan yang terarah pada sesuatu yang ingin diketahui, dengan cara yang hati-hati.
·      Holdover questions yaitu menunda suatu pertanyaan yang tiba-tiba mucul dalam pikiran pemeriksa, sewaktu klien sedang menceritakan peristiwa
·      Projective questions yaitu menanyakan pendapat klien tentang hal-hal tertentu atau orang lain, untuk mengetahui sistem nilai klien yang diterapkan terhadap diri sendiri atau terhadap orang lain
Observasi dalam Psikologi Klinis
Dalam metode observasi terdapat lima keadaan atau bagaimana cara menerapkan observasi yakni dengan cara studi lapangan, introspeksi, studi kasus, metode klinis dan metode eksperimen.
Wallen (1956) telah mengemukakan beberapa hal pokok yang dapat dilihat dalam observasi klinis antara lain:
1.    Penampilan umum dapat berupa penampilan fisik secara keseluruhan, misalnya bertubuh gemuk, kurus atau tinggi. Bersamaan dengan observasi fisik harus diingat kembali data yang telah didapat dari anamnesis yaitu pekerjaan, status perkawinan, dan sebagainya.
2.    Reaksi emosi. Dalam wawancara pemeriksa serigkali dapat merasakan adanya suasana wawancara tertentu, misalnya suasana lucu, sedih, tegang.
3.    Bicara, penampilan hanya dapat memberi kesan sepintas lalu tentang seorang klien, karena penampilan itu (misalnya dalam hal berpakaian) dan ekspresi emosi dapat diubah oleh klien yang bersangkutan.
Pemberian Tes dalam Pemeriksaan Psikologi Klinis
Tes yang biasanya dilakukan pada subjek untuk pemeriksaan antara lain tes intelegensi umum, tes proyeksi, tes grafis dan inventori kepribadian.
Pemeriksaan merupakan salah satu dari variabel yang dapat mempengaruhi jalannya pemeriksaan. Pemeriksaan harus sadar bahwa dirinya dapat memengaruhi tingkah laku klien atau pasien yaitu apakah pasien kooperatif dan optimal, atau sebaliknya. Sesudahnya ada pemeriksaan yang dilakukan si pemeriksa maka diperlukan laporan. Laporan kasus yang didasarkan atas wawancara dan observasi meliputi:
·         Keluhan, simtom, atau masalah yang menyebabkan klien datang
·         Kepribadian yaitu predisposisi, tempramen, tipologi, struktur, dinamika kepribadian klien
·         Frustasi atau konflik atau stresor terakhir yang dihadapi
·         Penyesuaian diri pada saat akhir pemeriksaan
Laporan pemeriksaan psikologis dapat pula dibuat atas dasar data tes yang diberikan pada subjek/klien/pasien. Kesimpulan yang diperoleh umumnya meliputi deskripsi inteligensi dan kepribadian subjek.
Bila laporan pemeriksaan klini sakademik dibuat untuk tujua pendidikan calon psikolog dan untuk melakukan penelitian, maka laporan pemeriksaan klinik untuk pihak luar bertujuan untuk memberikan informasi, saran atau jawaban terhadap masalah yang diajukan peminta laporan agar dapat dimengerti dan bermanfaat bagi pihak yang meminta laporan tersebut. Penyampaian hasil pemeriksaan sebaiknya dilakukan secara dua arah artinya klien tidak hanya mendengarkan hasil tapi juga mendapatkan kesempatan untuk bertanya.
Bila bentuk hasil pemeriksaan adalah tertulis dan akan dibaca oleh nonpsikolog, maka perlu dipertimbangkan isi laporan dan metode menjaga kerahasiannya.

INTERVENSI DALAM PSIKOLOGI KLINIS
 Secara umum, intervensi adalah upaya untuk mengubah perilaku, pikiran atau perasaan seseorang. Salah satu contoh intervensi adalah iklan. Iklan makanan kecil (permen, chiki) yang apabila dilancarkan maka dapat mengubah kebiasaan makan seorang anak.
Psikoterapi merupakan salah satu intervensi dalam konteks hubungan profesional antara psikolog dan klien atau pasien. Definisi Psikoterapi menurut Wolberg dan Frank (1967, dalam Phares 1992) adalah suatu bentuk perilaku terhadap masalah yang sifatnya emosional, di mana seorang yang terlatih secara sengaja membina hubungan profesional dengan seorang klien, dengan tujuan menghilangkan, mengubah atau memperlambat simtom, untuk mengantarai pola perilaku terganggu, dan meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan pribadi yang positif.
Menurut kedalamannya psikoterapi dibedakan menjadi tiga yaitu psikoterapi suportif, psikoterapi reedukatif, dan psikoterapi rekonstruktif. Psikoterapi suportif bertujuan untuk memperkuat perilaku penyesuaian diri klien yang sudah baik, memberi dukungan psikologis, dan menghindari diri dari usaha untuk menggali apa yang ada dalam alam-bawah sadar klien. Psikoterapi reedukatif bertujuan untuk mengubah pikiran atau perasaan klien agar ia dapat berfungsi lebih efektif. Psikoterapi rekonstruktif bertujuan untuk mengubah seluruh kepribadian pasien/klien dengan menggali ketidaksadaran klien, menganalisis mekanisme defensif yang patologis, memberi pemahaman akan adanya proses-proses tak sadar, dan seterusnya.
Pembedaan tujuan dan tingkat psikoterapi tidak terlepas dari teori kepribadian yang melandasinya. Teori kepribadian ini adalah psikoanalisis, teori perilaku, teori humanistik dan fenomenologis, teori klinis-sosial, dan pendekatan sosiokultural dalam psikologi klinis.
Nietzel (1998) seperti yang dijelaskan dalam buku ini bahwa psikoterapi dapat dilakukan secara individual dan dapat juga dilakukan dengan suatu orientasi sosial yakni merupakan psikoterapi dalam kelompok, bersama pasangan atau bersama keluarga. Penenkanan dalam terapi kelompok adalah memahami gangguan dalam relasi interpersonal dan mengurangi gangguan itu dalam setting kelompok. Keunggulan terapi kelompok dibandingkan dengan terapi individual adalah bahwa anggota kelompok dianggap mewakili suatu lingkungan interpersonal dengan lebih baik daripada hanya satu orang terapis, sehingga dapat lebih menjamin perbaikan hubungan interpersonal.
Dalam suatu terapi adanya proses yang harus dilakukan melalui tahapan-tahapan. Tahapan-tahapannya sebagai berikut:
1.       Pertemuan awal. Pada pertemuan ini biasanya ditanyakan data identifikasi klien dan masalah yang dikemukakan
2.       Asesmen. Sesuai dengan tujuan kedatangan klien, dilakukan asesmen yang dapat meliputi wawancara dan observasi, dan pemberian sejumlah tes bila diperlukan
3.       Tujuan intervensi. Ini ditetapkan setelah dilakukan integrasi atas data asesmen. Beberapa terapis membahas tujuan intervensi ini bersama klien
4.       Implementasi terapi. Ini meliputi pemberitahuan kepada klien waktu yang diperlukan dalam intervensi serta sasaran utama terapi
5.       Mengakhiri terapi. Di sini dilakukan evaluasi hasil terapi dan tindak lanjut yang akan dilakukan. Misalnya apakah akan ada tindak-lanjut, perteuan dengan pihak keluarga dan lain-lain.

PENELITIAN DALAM PSIKOLOGI KLINIS
Metode penelitian dalam psikologi klinis pada dsarnya sama dengan metode penelitian pada umumnya, namun tujuan dan penekanannya adalah untuk keperluan populasi khusus. Metode-metode yang digunakan ialah metode observasi, penelitian epidmiologi, metode korelasi, penelitian longitudinal, metode eksperimen, dan desain satu kasus.
Metode Observasi
Ada beberapa jenis observasi yakni observasi tak sistematik, observasi alami, observasi terkendali, dan observasi pada studi kasus
a.       Observasi tak sistematik misalnya observasi yang dilakukan oleh pemeriksa secara kebetulan terhadap seorang subjek saat subjek sedang menunggu giliran, atau saat subjek sedang menjalani tes
b.      Observasi alamiah atau naturalistik ialah yang dilakukan dalam setting alamiah. Misalnya observasi terhadap seorang anak hiperaktif di rumahnya sendiri atau di sekolah
c.       Observasi terkendali. Jenis observasi ini dilakukan untuk memperbaiki observasi alami yang kurang sistematik dengan memberi suatu “stimulus” kepada orang yang akan diamati dalam setting alamiah
d.      Studi kasus, ialah suatu penelitian intensif terhada satu subjek, yang bertujuan memberikan deskripsi yang mendetail tentang subjek yang diteliti itu.

Metode Penelitian Epidemiologis
Metode ini mempelajari kejadian, prevalensi, dan distribusi penyakit atau gangguan dalam suatu populasi. Metode ini biasanya dilakukan dalam bidang kedokteran untuk mengetahui penyebaran penyakit menular dan penyakt-penyakit yang terkait dengan kondisi daerah tertentu di Indonesia

Metode Korelasi
Metode korelasi memungkinkan peneliti untuk menemukan apakah suatu variabel yang satu dengan yang lainnya berkaitan. Contohnya adalah apakah ada hubungannya antara skor tes inteligensi dengan jenis gangguan psikiatrik tertentu.

Penelitian Longitudinal
Desain penelitian longitudinal meneliti sejumlah orang yang sama dalam suatu kurun waktu tertentu, misalnya meneliti kelompok lanjut usia antara tahun 2000 hingga tahun 2016. Desain longitudinal sangat penting untuk mengetahui hal-hal yang berpengaruh pada perkembangan anak, perkembangan psikopatologi, dan lain-lain.

Metode Penelitian Eksperimental
Untuk menguji dan memastikan adanya suatu hubungan sebab-akibat antara dua peristiwa, maka perlu dilakukan metode eksperimen. Dalam penelitian eksperimental ada dua hal yang harus diperhatikan, yakni masalah validitas internal dan eksternal. Validitas internal yaitu adanya jaminan bahwa yang menyebabkan terjadinya suatu perubahan yang direncanakan oleh eksperimen itu adalah hanya stimulus yang diberikan dan bukan hal-hal lainnya.

Desain Satu Kasus
Desain satu kasus mempunyai persamaan dengan desain studi kasus dan desain eksperimental. Dalam desain satu kasus ini, siukur perilaku individu sebelum dan sesudah perlakuan, dan hal ini dilakukan dalam situasi eksperimen


KEKHUSUSAN DALAM PSIKOLOGI KLINIS

Psikologi Komunitas
Dalam tulisan ini, psikologi komunitas akan dibahas sebagai salah satu kegiatan yang berkaitan dengan memberi bantuan kepada orang yang mengalami gangguan emosional, penyesuaian diri, atau masalah psikologi lainnya.
Yang dimaksud dengan Psikologi Komunitas pada umumnya adalah suatu pendekatan terhadap kesehatan mental seseorang yang menekankan pada peran daya lingkungan dalam menciptakan dan mengurangi masalah.
Seperti yang dijelaskan dalam buku ini, Bloom mengemukakan perbedaan antara layanan psikologi tradisional dengan layanan pendekatan kesehatan mental komunitas. Penekanan pendekatan kesehatan mental komunitas adalah:
1.        Intervensi dalam komunitas
2.        Intervensi dilakukan dalam populasi terbatas, misalnya high-risk population
3.        Penekanan pada pencegahan
4.        Promosi pelayanan tak langsung, seperti mengadakan konsultasi dan pelatihan
5.        Pelaksanaan oleh ahli dari berbagai bidang ilmu dan awam

Ada beberapa konsep yang sangat melekat pada pendekatan psikologi komunitas, yaitu pencegahan dan pemberdayaan. Pencegahan gangguan jiwa bertujuan untuk menghemat biaya perawatan penderita. Pemberdayaan manusia dalam masyarakat bertujuan untuk mempertahankan kesehatan dan mencegah penyakit jiwa.

Pencegahan
Ada tiga jenis pencegahan yaitu primer, sekunder, tersier. Pencegahan primer adalah upaya melawan keadaan yang memungkinkan timbulnya gangguan sebelum gangguan itu terjadi. Yang termasuk dalam pencegahan primer yaitu pemberian gizi bagi balita, imunisasi, konseling pranikah. Pencegahan sekunder adalah usaha diagnosis dini atas suatu keadaan dan bertujuan agar dapat dilakukan terapi pada tahap dini atau tahap awal gangguan, misalnya deteksi suatu keadaan gangguan neurologis minimal yang dapat ditindaklanjuti segera pada tahap awal. Pencegahan tersier adalah upaya rehabiltasi terhadap orang-orang yang memerlukan penyesuaian kembali karena penyakit atau trauma yang pernah dialaminya, misalnya berupa konseling, pelatihan dan lain-lain.

Pemberdayaan
Pemberdayaan adalah upaya mencegah terbentuknya perasaan tak berdaya dan pasrah pada individu atau kelompok individu yang terkena suatu dampak perubahan lingkungan yang merugikan (korban penipuan, kesewenang-wenangan). Ada beberapa kelompok rentan dalam masyarakat yang perlu diperhatikan misalnya, remaja yang rentan terhadap pengaruh sebayanya yang mengonsumsi narkoba, lanjut usia yang terlempar dari keluarganya sendiri, tenaga kerja wanita yang diekspor ke luar negeri tanpa bekal pengetahuan dan kompetensi yang memadai.

Adapun metode-metode intervensi dan perubahan dalam pendekatan komunitas meliputi konsultasi, mengadakan layanan masyarakat sebagai ‘pengganti’ layanan rumah sakit, intervensi krisis (memberi bantuan dan dukungan kepada orang-orang dalam keadaan stres akut agar mereka terhindar dari gangguan yang lebih parah dan menahun), intervensi pada usia dini (penyuluhan gizi, imunisasi, kesehatan), dan pengembangan berbagai program pelatihan upaya pemberdayaan masyarakat.

Psikologi Kesehatan
Psikologi Kesehatan dalam latar belakang sejarahnya Psikologi Klinis sudah dikenal dengan nama Medical Psychology, dan sekarang selalu dikaitkan dengan Behavioral Medicine. Dasar pemikiran Psikologi Kesehatan adalah adanya hubungan antara pikiran manusia dan tubuhnya. Selain itu, Psikologi kesehatan memberi sumbangan pada peningkatan promosi kesehatan, dan pencegahan serta penyembuhan penyakit.

Psikosomatik dan Psikologi Kesehatan
Hubungan antara pikiran (mind) dan perilaku dinamakan dengan psikosomatik, yang dalam ilmu kedokteran merupakan salah satu subspesialisasi Ilmu Penyakit Dalam. Menurut pendekatan Psikosomatik, gangguan psikologis yang spesifik akan menimbulkan penyakit spesifik pula, misalnya gangguan emosi seperti menekan rasa sedih dan keinginan menangis, dapat muncul sebagai gejala asma; kemarahan yang tertahan muncul dalam tekanan darah tinggi.

Intervensi dan Pencegahan dalam Perspektif Psikologi Kesehatan
Untuk keperluan pencegahan dan promosi kesehatan perlu dilakukan teknik-teknik yang kebanyakan berasal dari pendekatan belajar. Teknik-teknik ini antara lain: kondisioning responden, relaksasi, strategi kognitif, metode pengelolaan diri.
Upaya mengurangi perilaku yang mengandung resiko menimbulkan penyakit, upaya mengikuti dan mempertahankan perawatan dan pengobatan agar penyakit tidak kambuh atau menjadi semakin parah, merupakan tujuan dari kegiatan pencegahan. Diantaranya adalah makan makanan sehat, latihan fisik, dan mengurangi stres.

Neuropsikolgi
Neuropsikologi mempelajari tentang hubungan antara otak dan perilaku, disfungsi ota dan defisit perilaku, dan melakukan asesmen dan treatment untuk perilaku yang berkaitan dengan fungsi otak yang terganggu.
Daerah-daerah tertentu otak memiliki fungsi-fungsi tertentu. Daerah frontal diduga berfungsi sebagai komparator dan mampu mengatasi inertia. Kerusakan pada bagian ini menimbulkan frontal lobe syndrome yang ditandai dengan menurunnya beberapa fungsi seperti:pengendalian impuls, penilaian sosial, kemampuan membuat rencana, apatis, curiga, kepedulian akan akibat perilaku.
Ada juga gangguan temporal lobe personality yang diduga berkaitan dengan fungsi linguistik. Simtomnya antara lain: selalu memberi makna personal dan emosional atau peristiwa biasa sehingga menimbulkan kesan paranoid, kecenderungan terpaku pada suatu hal, dan menunjukkan perilaku hypergraphic.

Psikologi Forensik
Psikologi forensik adalah interface dari Psikologi dan Hukum, dan merupakan aplikasi pengetahuan psikologi, khususnya psikologi klinis, pada masalah-masalah yang dihadapi jaksa, polisi, dan lain-lain untuk penyelesaian masalah yang berhubungan dengan keadilan sipil, kriminal, dan administratif.
Bidang yang dinamakan psikologi forensik mencakup peran psikolog dalam menentukan beberapa hal penting, yaitu (Phares, 1992):
1.      Psikolog dapat menjadi saksi ahli
2.      Psikolog dapat menjadi penilai dalam kasus-kasus kriminal
3.      Psikolog dapat menjadi penilai bagi kasus-kasus madani
4.      Psikolog dapat juga memperjuangkan hak untuk memberi/menolak pengobatan bagi seseorang.
5.      Psikolog diharapkan dapat memprediksi bahaya yang mungkin berkaitan dengan seseorang
6.      Psikolog diharapkan dapat memberikan treatment sesuai dengan kebutuhan
7.      Psikolog diharapkan dapat menjalankan fungsi sebagai konsultan dan melakukan penelitian di bidang psikologi forensik

Dijelaskan dalam buku ini bahwa Nietzel dkk (1998) menyimpulkan bahwa ada lima pokok bahasan psikologi forensik, yaitu:
1.      Kompetensi untuk menjalani proses pengadilan serta tanggung jawab kriminal
2.      Kerusakan psikologis yang mungkin terjadi dalam pengadilan sipil
3.      Kompetensi sipil
4.      Otopsi psikologis dan criminal profiling
5.      Hak asuh anak dan kelayakan orang tua (parental fitness)

Psikologi Klinis Anak dan Pediatri
Perhatian yang besar pada kekhususan psikologi untuk anak berkembang karena beberapa temuan, yaitu:
1.      Bertambah banyaknya kasus psikopatologi anak, yakni 22%
2.      Banyak gangguan yang terjadi pada anak-anak yang mempunyai konsekuensi serius pada usia dewasa
3.      Kebanyakan gangguan pada masa dewasa mungkin berasal dari masalah pada kanak-kanak yang tidak terdiagnosis
4.      Perlu dilakukan intervensi untuk mencegah berlanjutnya suatu gangguan pada anak sampai dewasa.

Meskipun penekanan pada Psikologi Klinis-Anak dan Psikologi Pediatri berbeda, tetapi tetap terjadi tumpang tindih antara keduanya. Secara umum keduanya memperhatikan perspektif perkembangan untuk menentukan ada atau tidaknya gangguan.

No comments:

Post a Comment

Terima Kasih sudah berkunjung di blog saya. Silahkan berkomentar dengan sopan. Dan semoga bermanfaat