Kali ini saya
akan menulis rangkuman dari buku yang berjudul “Psikologi Klinis” yang ditulis
oleh Suprapti Slamet I.S dan Sumarmo Markam yang diterbitkan pada tahun 2003.
Waaoow lama sekalii yaa bukunyaa. Yaaa meskipun sudah lama bukunya tapi saya tertarik
buat baca. :D
LATAR BELAKANG PSIKOLOGI KLINIS
Psikologi
Klinis termasuk salah satu bidang psikologi terapan selain Psikologi
pendidikan, Psikologi Industri, dan lain-lainnya. Psikologi klinis menggunakan
konsep psikologi abnormal, psikologi perkembangan, psikopatologi dan psikologi
kepribadian yang berguna untuk dapat memahami dan memberi bantuan kepada
seseorang yang mengalami masalah-masalah psikologis, gangguan penyesuaian diri
dan tingkah laku abnormal.
Definisi dan Ruang Lingkup Psikologi Klinis
Psikologi klinis dapat diartikan secara sempit maupun secara luas.
Secara sempit, Psikologi klinis tugasnya adalah mempelajari orang-orang yang
abnormal atau subnormal. Tugas utamanya adalah menggunakan tes yang merupakan
bagian dari suatu pemeriksaan klinis yang biasanya dilakukan di rumah sakit.
Secara luas, Psikologi klinis adalah bidang psikologi yang membahas dan
mempelajari kesulitan-kesulitan serta rintangan-rintangan emosional pada
umumnya yang dirasakan oleh manusia, tidak memandang apakah itu abnormal atau
subnormal.
Menurut Phares (1992) seperti yang dijelaskan dalam buku, psikologi
klinis menunjuk pada bidang yang membahas kajian, diagnosis, dan penyembuhan (treatment) atau tingkah laku abnormal.
Psikologi Klinis, Bidang-bidang Kajian
Terkait, dan Profesi-profesi Pemberi Pertolongan (Helping Professions) Lainnya
Yap Kie Hien (1968) yang dijelaskan di dalam buku ini mengemukakan
bebrapa istilah lain untuk “Psikologi Klinis.” Istilah-istilah tersebut adalah
Psikopatologi, Psikologi Abnormal, Psikologi Medis, Patopsikologi dan Psikologi
Mental Health.
Psikopatologi, adalah bidang
yang mempelajari patologi atau kelainan dari proses kejiawaan. Istilah ini
biasanya digunakan dalam lingkungan psikiatri. Seorangg psikologi klinis harus
menguasai psikologi untuk dapat berhasil dalam pekerjaan diagnostiknya.
Psikologi Medis, merupakan
suatu penjabaran dari psikologi umum dan psikologi kepribadian untuk ilmu
kedokteran. Yang mempunyai tujuan untuk melengkapi pengetahuan seorang dokter
tentang gambaran biologi manusia dengan gambaran kehidupan kejiwaan
fungsi-fungsi psikis, berpikir, pengamatan.
Psikologi Abnormal, nama ini
diciptakan oleh psikolog-psikolog yang ingin mengklasifikasikan keadaan yang
tidak normal yang mungkin terjadi pada individu.
Psikologi Konflik dan Pato-Psikologi, kedua nama tersebut
diusulkan untuk menunjukkan bahwa seseorang yang membutuhkan pertolongan
psikolog tidak selalu ‘sakit’. Pertolongan psikolog seperti ini dapat diberikan
kepada mereka yang mengalami kesulitan, misalnya konflik, ketegangan, dan
sebagainya yang dapat mengganggu keseimbangan.
Mental Health dan ‘Mental Hygiene’, Istilah mental hygiene lebih dekat dengan bidang
kedokteran. Mental hygiene bertugas
mempertahankan dan memelihara kesehatan mental dan mencegah terjadinya gangguan
mental, membahas tentang bagaimana mempertahankan dan memelihara kesehatan
mental dan mencegah terjadinya gangguan mental.
MASALAH NORMAL, ABNORMAL DAN PATOLOGI
Berikut ini ada
empat kasus yang akan saya bahas sesuai dengan bebrapa sudut pandang untuk
penilaian normalitas:
1.
Seorang ibu mengeluh tentang putra remajanya (L)
yang duduk di kelas 11 SMA. Menurut ibu, L tidak peduli karena ia tidak mau
tahu apa yang terjadi di luar kamar tidurnya. Tiap pulang sekolah L langsung
masuk kamar, dan hanya keluar untuk makan atau keperluan pribadinya. Ia tidak
mau mengantar adiknya ke dokter, dan ia tidak peduli apakah ada tamu atau
keluarga yang datang berkunjung.
2.
Seorang mahasiswa (M) mengeluh tentang nilainya
yang tidak memuaskan, padahal ia sudah belajar secara intensif. Teman-temannya
yang belajar asal-asalan dan menyontek justru mendapat nilai lumayan. M
bertanya apakah ia lebih baik menyontek karena menurut M menyontek adalah hal
yang sudah umum
3.
Seorang mahasiswa (N) sering gemetaran
menghadapi teman-teman yang sering mengejeknya. N telah berusaha melawan
perasaan cemas tersebut, namun belum juga berhasil. Akibatnya N sering
menyendiri dan tidak mempunyai teman.
4.
Ibu (O) merasa bahwa sejak hamil anak ketiga, ia
dapat merasakan apa yang terjadi di masa depan. Misalnya hanya dengan melihat
wajah orang, O tahu orang itu baik atau jahat. Hal tersebut tekadang membuat O
semakin terganggu. Ia mengaku bahwa kemampuan melihat masa depan seperti itu
juga dimiliki ibunya sebelum meninggal. Menurut cerita keluarganya, ibunya
masih ada hubungan dengan kyai sakti dari Surabaya.
Berikut ini akan dibahas hal-hal yang
perlu dipertimbangkan sebelum psikolog menilai tentang abnormal, patologis atau
sakit tidaknya seseorang. Ada kecenderungan untuk mengelompokkan
individu-individu yang normal dan sehat jiwa di satu pihak, dan yang abnormal,
berkelainan, patologis dan sakit di pihak lain.
Ada dua pendekatan yang berbeda dalam
membuat pedoman mengenai normalitas yaitu pendekatan
kuantitas dan pendekatan kualitatif.
·
Pendekatan
Kuantitatif
Pendekatan kuantitatif didasarkan
atas sering atau tidaknya sesuatu yang terjadi, yang diperkirakan secara
subjektif mengikuti pemikiran awam. Misalnya anggapan bahwa pria berambut
gondrong adalah normal dan biasa. Anggapan semacam ini didasarkan atas
perkiraan subjektif.
·
Pendekatan
Kualitatif
Pendekatan yang kedua adalah pendekatan
kualitatif. Pendekatan kualitatif yaitu menegakkan pedoman-pedoman normatif
yang tidak berdasarkan perhitungan atau perkiraan awam, tetapi atas observasi
empirik pada tipe-tipe ideal.
Patokan-patokan kualitatif ini
sangat terikat dengan keadaan social-budaya setempat dan menggunakan kriteria
penilaian kualitatif atau tipe ideal yang memperhatikan keadaan social-budaya
setempat.
Berdasarkan kedua pendekatan kualitatif
dan kuantitatif, kasus L dan kasus M dapat ditelaah: Pada contoh kasus L,
perilaku L yang kelas 11 SMA tidak sesuai dengan apa yang idela menurut ibunya.
Tampaknya remaja yang berperilaku demikian cukup banyak. Jika dalam prestasi
sekolah dan hubungan antarmanusia (selain di rumah) tidak ada hal-hal yang
menganggu, maka kasus L secara kuantitatif
dapat dianggap normal meski tidak ideal. Ini bukan berarti perilaku seperti itu
tidak perlu diubah. Pada kasus M, perilaku menyontek adalah sesuatu yang dapat
dikatakan sebagai menyimpang dalam arti ‘patologis’, meskipun diperkirakan oleh
M banyak terjadi dan dianggap sebagai ‘normal’ secara kuantitatif. Tetapi tentu
saja tidak akan dianjurkan kepada M untuk melakukan kegiatan yang menyimpang
seperti itu.
Normal Menurut
Stern (1964)
Stern mengusulkan untuk
memperhatikan 4 aspek untuk menilai normal atau tidaknya seseorang, yaitu:
a.
Daya Integrasi
Daya integrasi adalah fungsi ego
dalam mempersatukan, mengkoordinasi kegiatan ego ke dalam maupun ke luar diri.
Makin terkoordinasi dan terintegrasi suatu perilaku atau pemikiran, makin baik.
b.
Ada atau tidaknya simtom gangguan
Ada atau tidaknya simtom atau gejala
gangguan merupakan pegangan yang paling jelas dalam mengevaluasi kesehatan jiwa
secara kualitatif. Ini dinamakan juga pendekatan medis.
c.
Kriteria psikoanalisis
Kriteria psikoanalisis memperhatikan
dua hal untuk dipakai patokan dari kesehatan jiwa, yaitu tingkat kesadaran dan
jalannya perkembangan psikoseksual. Makin tinggi tingkat kesadaran seseorang,
maka semakin baik atau sehat jiwanya. Sebaliknya jika seseorang terlalu banyak
dikuasai oleh alam tak sadar, maka berarti ia kurang sehat jiwanya.
Kekuatan pendekatan Psikoanalisis
adalah cukup mendalami dan memperhatikan hal-hal khusus yang mungkin terjadi
pada diri seseorang. Terdapat kelemahan dalam psikoanalisis adalah fungsi alam
sadar terlalu diagungkan dan kemungkinan-kemungkinan yang memiliki arti positif
dalam alam tak sadar tidak terlalu diperhatikan, terjadinya penyederhanaan
berlebihan dalam menerangkan segala sesuatu yang terjadi di masa dewasa dengan
mengembalikan ke masa lalu.
d.
Determinan sosio-kultural
Sosio-kultural berhubungan dengan
lingkungan. Lingkungan seringkali memegang peranan besar dalam penilaian suatu
gejala sebagai normal atau tidak. Menurut beberapa penelitian, ada hubungan
antara jenis-jenis neurosis dengan keadaan sosial-ekonomi masyarakat. Pada
masyarakat dengan tingkatan sosial-ekonomi yang tinggi lebih banyak terdapat
psikoneurosis verbal, sedangkan pada tingkatan sosial-ekonomi rendah lebih
banyak terdapat neurosis fisik.
Neurosis sering disebut juga dengan
psikoneurosis adalah ketidakseimbangan mental yang dapat menyebabkan stress
tetapi tidak seperti psikosis atau kelainan kepribadian. Neurosis tidak
memengaruhi pemikiran rasional.
Normal Menurut
Ulmann dan Krasner (1980)
Menurut Ulmann dan Krasner tingkah
laku manusia tidak dapat dilihat secara dikotomis sebagai normal atau tidak
normalnya seseorang, tetapi harus dilihat dalam hubungannya dengan suatu
prinsip, di mana suatu tingkah laku merupakan hasil dari keadaan di masa lalu
dan masa kini. Ia mengemukakan kesulitan-kesulitan untuk mendefiniskan
abnormalitas secara statistik, medis, dan psikoanalitis serta sosiokultural
terhadap abnormalitas. Definisi tersebut menghubungkan tingkah laku manusia
dengan kompetensi, tanggung jawab atas
perbuatan criminal serta komitmen.
Definisi ini digunakan untuk menentukan apakah seseorang sudah harus dimasukkan
ke rumah sakit jiwa, penjara, institusi khusus atau tidak.
Normal Menurut
Gladstone (1978)
William Gladstone dalam bukunya Test Your Own Mental Health menguraikan pegangan pegangan praktis
untuk menilai kesehatan mental diri sendiri. Ia mengusulkan untuk menilai 7
aspek yang merupakan tingkah laku penyesuaian diri (adaptability) yaitu: ketegangan, suasana hati, pemikiran, kegiatan
(aktivitas), organisasi diri, hubungan antarmanusia, dan keadaan fisik.
SEBAB-SEBAB TINGKAH LAKU ABNORMAL DAN
KLASIFIKASI GANGGUAN JIWA SEBELUM DSM III
Coleman (1984) seperti yang dijelaskan dalam buku ini membahas beberapa perspektif
penyebab tingkah laku abnormal dengan membedakan antara penyebab primer,
penyebab predisposisi, penyebab yang mencetuskan dan penyebab yang menguatkan (reinforcing).
Penyebab primer
adalah kondisi yang harus dipenuhi agar suatu gangguan dapat muncul, meskipun
dalam kenyataan gangguan tersebut tidak atau belum muncul. Penyebab predisposisi adalah keadaan sebelum munculnya suatu
gangguan yang merintis kemungkinan terjadinya suatu gangguan di masa yang akan
datang. Penyebab yang mencetuskan
ialah suatu peristiwa yang sebenarnya tidak begitu parah namun seolah-olah
merupakan sebab timbulnya perilaku abnormal itu. Penyebab yang menguatkan (reinforcing) adalah peristiwa yang
terjadi pada seseorang yang memantapkan suatu keadaan atau kecenderungan
tertentu, yang telah ada sebelumnya.
Kebanyakan tingkah laku abnormal adalah hasil dari tekanan (stress) yang bekerja pada seseorang yang
memiliki suatu diathesis untuk jenis gangguan yang akan muncul kemudian.
Diatesis adalah perisposisi (dalam aspek biologis, psikososial dan
sosiokultural) untuk berkembangnya suatu gangguan tertentu di masa yang akan
datang.
Frustasi, Stres dan Penyesuaian Diri
Sepanjang masa perkembangan dari lahir hingga dewasa,
kebutuhan-kebutuhan seseorang tidaklah selalu terpenuhi dan sering kali terjadi
hambatan dalam rasa puas untuk suatu kebutuhan dan keinginan. Keadaan terhambat
tersebut dinamakan frustasi. Keadaan frustasi yang berlangsung terlalu lama dan
tidak dapat diatasi oleh seseorang akan dapat menimbulkan stress. Stres adalah
suatu keadaan di mana beban yang dirasakan seseorang tidak sepadan dengan
kemampuan untuk mengatasi beban tersebut.
Seseorang dapat melakukan bermacam-macam cara penyesuaian
diri untuk mengatasi berbagai macam stress tergantung dari kemampuan yang
dimiliki, pengaruh-pengaruh lingkungan, pendidikan, dan bagaimana ia
mengembangkan dirinya. Dan adapun langkah yang dapat dilakukan untuk
penyesuaian diri terhadap stress yaitu:
·
Menilai situasi stress, yaitu menggolongkan
jenis stress (kategorisasi), dan memperkirakan bahaya yang berkaitan dengan
stress itu
·
Merumuskan alternatif tindakan yang dapat
dilakukan dan menentukan tindakan yang paling mungkin untuk dilakukan
·
Melaksanakan tindakan adalah langkah yang paling
sukar
·
Melihat feedback
Interaksi Antara Bawaan-Lingkungan dan
Terbentuknya “Aku” (Self)
Faktor-faktor bawaan
yang dapat dilihat dari ciri fisik dan juga ciri reaksi primer yang dimiliki
oleh seseorang. Ciri fisik seperti warna kulit, mata, rambut, selain ciri fisik
dan untuk ciri reaksi primer seperti kepekaan, adaptabilitas, dan aktivitas.
Lingkungan dapat
berupa lingkungan fisik (keadaan rumah, udara, gizi) dan lingkungan
social-budaya (orang tua, sekolah, pesantren, dan kelompok lainnya). Lingkungan
sosial dapat memberntuk perilaku dan sikap seseorang yang diharapkan dalam
suatu lingkungan budaya.
Interaksi antara
bawaan dan lingkungan terjadi secara terus menerus dan lambat laun
menumbuhkan perasaan adanya “Aku”. “Aku” menjadi, pusat aktif yang mengarah
pada diri sendiri, menentukan tindakan, tujuan yang ingin dicapai. “Aku”
mengintegrasikan perasaan, pemikiran, dan tindakan seseorang. Melalui proses
belajar, “Aku” memperkirakan yang ada untuk mengenali realitas, nilai-nilai,
dan lebih mengembangkan diri. Dengan melalui proses belajar, maka “Aku”
individu dengan lingkungan dapat mengatasi dengan baik atau tidak dapat diatasi
dengan baik pada saat timbulnya stress.
Pentingnya Pengalaman Masa Dini dan Asuhan
Keibuan (Mothering)
Deprivasi atau keterlantaran yang dalam hal kasih sayang ibu
di masa dini, atau trauma psikis yang terjadi di masa dini dapat memengaruhi
kepribadian seseorang (emosi, sikap, predisposisi) yang berakibat jauh ke masa
depannya sehingga sangat dibutuhkan adanya pengasuhan oleh ibu.
Mothering atau
pengasuhan anak oleh ibu di masa kecil serta pengaruhnya dalam perkembangan
emosi anak. Hal tersebut telah diselidiki oleh Yarrow dan Ribble yang
dijelaskan di dalam buku ini.
Pola Hubungan Keluarga dan Keluarga
Patogenik
Contoh pola hubungan keluarga yang patogenik misalnya anak
yang terlalu dilindungi atau dibatasi aktivitasnya oleh orang tua, pemanjaan
dan pemenuhan kebutuhan secara berlebihan, tuntutan terhadap anak yang tidak
realistic atau terlalu berat, kegagalan berkomunikasi. Akan tetapi Coleman
memberikan 4 contoh dari apa yang disebutnya sebagai keluarga patogenik yaitu
keluarga yang tidak mampu menyelesaikan masalah-masalah keluarga sehari-hari,
keluarga terganggu (keluarga yang membuat suasana di rumah dalam ketegangan
emosional terus menerus), keluarga antisosial, dan yang terakhir adalah
keluarga terpecah.
Klasifikasi Tingkah Laku Abnormal
Buku ini menjelaskan bahwa Henderson dan Gillespie (1956)
menguraikan bebrapa jenis klasifikasi gangguan jiwa sebagai berikut:
·
Klasifikasi Psikologis
Dikemukanan oleh Linneaus, Arnold, Pritchard, Heinroth,
Bucknill&Tuke, Ziehen (dalam Henderson et.
al., 1956)
-
Linneaus membedakan antara ganguan-gangguan
dalam ide, imajinasi dan emosi
-
Arnold membedakan antara gangguan ‘ideal’ dan ‘notional’ atau dalam fungsi persepsi dan imajinasi, serta gangguan
dalam bidang konseptual/pemikiran
-
Pritchard membedakan antara ‘moral-insanity’ dan ‘intelectual insanity’
-
Heinroth membedakan antara gangguan dalam
pengertian, gangguan dalam kehendak, dan gangguan campuran
-
Bucknill&Tuke membedakan antara gangguan
intelek dan gangguan afektif (emosi) yang selanjutnya dibagi menjadi gangguan
afektif moral dan afektif animal
-
Ziehen membedakan antara gangguan tanpa efek
atau kerusakan intelektual dan gangguan dengan efek intelektual baik dari lahir
maupun yang diperoleh kemudian
·
Klasifikasi Fisiologis
Tuke, Maynart, Wernicke (dalam Henderson et. al.,
1956) mengemukakan sistem klasifikasi sebagai berikut:
-
Tuke mengadakan pembagian gangguan atas gangguan
fungsi sensorik, fungsi motorik, dan ide
-
Maynart membagi
kelainan tingkah laku menurut 3 penyebab yaitu perubahan anatomis, gangguan
gizi, dan intoksikasi atau keracunan
-
Wernicke membuat
asumsi-asumsi psikofiologis antara lain bahwa tiap isi kesdaran tergantung pada
seperangkat elemen tertentu
·
Klasifikasi Etiologis
Klasifikasi etiologis ini yang dimaksud adalah
pengelompokkan sesuai dengan gangguan fisik yang dapat menyebabkan penyakit
jiwa
·
Klasifikasi Simtomatologis
Metode klasifikasi simtomatologis yaitu mencari
gejala-gejala dan menyimpulkan jenis gangguan berdasarkan gejala-gejala
tersebut. Metodenya merupakan metode yang paling penting dalam psikiatri.
·
Klasifikasi Mutakhir
Diagnosis Tingkah Laku Abnormal
Ada beberapa konsep yang perlu diketahui untuk
mendiskripsikan suatu keadaan abnormal yakni: disfungsi, keadaan, dan sifat.
Suatu keadaan abnormal belum tentu merupakan gangguan ataupun penyakit mungkin
saja hanya merupakan suatu keadaan yang bersifat sementara, suatu disfungsi, yakni tidak atau kurang
berfungsi salah satu kemampuan atau ekspresi dari suatu sifat kepribadian.
TEORI-TEORI KEPRIBADIAN DAN PSIKOLOGI KLINIS
Teori kepribadian melandasi cara-cara pendekatan terhadap
gangguan penyesuaian diri. Teori kepribadian menjelaskan bagaimana terjadinya
gangguan itu, apakah makna dari penyimpangan atau gangguan itu, dan bagaimana
mengubahnya. Cara-cara pendekatan tersebut akan membahas aspek-aspek
kepribadian mana yang telah stabil dan bagaimana pemahaman perbedaan
ekspresinya dalam tingkah laku seseorang.
Terdapat empat pendekatan untuk memahami gangguan
penyesuaian diri atau tingkah laku abnormal, yaitu:
·
Pendekatan Psikoanalisis/ Psikodinamik
Pendekatan psikoanalisis atau psikodinamik menganggap
bahwa tingkah laku abnormal disebabkan oleh factor-faktor intrapsikis (konflik
tak sadar, represi, mekanisme defensif) yang mengganggu penyesuaian diri.
Biasanya psikoanalisis melakukan interview sebagai cara pendekatan dimaksudkan
untuk mengungkap hal-hal yang tersembunyi atau tidak sadar, yaitu
pengalaman-pengalaman masa lalu yang traumatic atau yang menimbulkan fiksasi.
·
Pendekatan Belajar
Orientasi belajar dalam pendekatan dan penyembuhan
gangguan jiwa didasarkan atas teori-teori belajar, antara lain prinsip-prinsp
kondisioning klasik, kondisoning operan, dan belajar social. Salah satu asumsi
model belajar untuk memahami gangguan jiwa adalah bahwa gangguan jiwa merupakan
respons yang tidak cocok yang terbentuk melalui proses belajar dan dapat
bertahan karena adanya penguat yang mempertahankannya.
·
Pendekatan Humanistik
Menurut tokoh-tokoh humanistic beranggapan bahwa manusia
adalah makhluk yang tingkatanyya tinggi, mempunyai kebebasan untuk menentuka
apa yang diinginkan, mempunyai bakat yang baik yang seringkali ditekan
pemunculannya oleh lingkungan sekitar. Pendekatan ini bertentangan dengan teori
psikoanalisis dan pendekatan belajar karena dalam pendekatan psikoanalisis
dianggap terlalu merendahkan harkat manusia, dan dalam pendekatan belajar
karena manusia seolah-olah disamakan dengan hewan, tidak memiliki kebebasan,
dan tidak mempunyai kehendak sendiri
·
Pendekatan Sosiokultural
Pendekatan sosiokultural beranggapan bahwa tingkah laku
abnormal disebabkan bukan karena faktor-faktor dalam diri pribadi individu melainkan
oleh keadaan lingkungan khususnya lingkungan sosial dan kultural. Misalnya
lingkungan sosial seolah-olah menekan seseorang untuk bertindak di luar batas
kemampuannya, demi mendapatkan sesuatu yang dituntut oleh lingkungan tersebut.
Bila tidak berhasil maka ia akan mendapat julukan yang serba negatif yang
akhirnya akan mendapatkan tekanan dalam jiwanya.
Interview dan observasi dalam pendekatan ini dilakukan
terutama ke luar diri individu yang bermasalah, misalnya norma masyarakat yang
tinggal di sekitar individu, keadaan ekonomi dan sosial keluarga
Empat pendekatan di atas dapat dilakukan sesuai dengan
kecocokan kasusu yang dihadapi. Ada kalanya suatu kasusu lebih cocok untuk
dianalisis menurut suatu pendekatan tertentu. Dan ada kalanya dapat dilakukan
pendekatan elektik, yaitu menerapkan beberapa pendekatan sekaligus pada
aspek-aspek yang berbeda dalam pemahaman kasus.
PSIKOFARMAKOLOGI
Pendekatan Medik, Biospsikologi, dan Psikofarmakologi
Seorang
neurology-psikiater yang sangat percaya pada orientasibiologis akan mengatakan
bahwa Pendekatan medis tidak mengenal gangguan atau penyakit jiwa yang ada
ialah “penyakit otak.”
Bidang
kajian yang membahas kedekatan antara psikologi dan biologi diberi nama salah
satunya yaitu Biopsikologi. Biopsikologi sendiri terdiri dari 5 kajian yang
lebih khusus yaitu: Psikologi Faal, Psikofarmakologi, Neuropsikologi,
Psikofisiologi, dan Psikologi Komparatif.
Psikologi Faal membahas dan memnipulasi
sistem saraf melalui pembedahan, pelistrikan, dan cara kimiawi dalam setting eksperimental, di mana subjek
yang diteliti adalah hewan.
Psikofarmakologi mempelajari efek obat pada perilaku manusia dan
bagaimana efek ini terjadi melalui perubahan aktivitas neural (saraf)
Neuropsikologi adalah kajian tentang behavior deficits yang diakibatkan oleh
kerusakan otak manusia.
Psikofisiologi hamper sama dengan psikologi
faal, namun lebih merupakan kajian non-eksperimental dan tidak selalu membahas
tentang hewan.
Psikologi Komparatif memperlajari perbandingan
fungsi dan struktur otak pada manusia dewasa, aak, dan kadang-kadang hewan
itngkat tinggi hingga tingkat rendah.
Disini
kita akan membahas tentang psikofarmakologi. Psikofarmakologi memperlajari
tentang penggunaan obat pada penyakit jiwa seseorang yang biasanya diberikan
oleh seorang dokter. Ada beberapa hal yang mungkin terjadi yang berkaitan
dengan penggunaan obat psikotropika yang diberikan oleh dokter yaitu:
·
Ada kalanya pasien mengurangi dosis yang dianjurkan dengan
alasan terganggu oleh rasa kantuk yang disebabkan obat. Beberapa pasien lain
menganggap bahwa dengan sekali minum obat mereka akan sembuh. Ini menyebabkan
obat yang sudah tepat diberikan oleh dokter pun tidak akan ada gunanya
·
Pemberian obat psikotropika haruslah sesuai dengan dosis
tertentu dan memperhatikan efek samping yang mungkin terjadi. Bila suatu obat
tidak cocok, maka pasien perlu kembali ke dokter yang sama untuk
meminta/mendapatkan penjelasan mengenai kerja obat tersebut. Kalai perlu dokter
akan memberikan obat pengganti
·
Beberapa pasien atau keluarga pasien sangat percaya pada obat
sehingga melalaikan psikoterapi. Yang perlu diingat adalah bahwa tujuan dari
pemberian obat psikotropika ialah menghilangkan atau mengurangu gejala sasaran
bukan menyembuhkan
·
Beberapa pasien lain tidak mengkonsumsi obat psikotropika
karena takut akan mengalami ketergantungan. Pasien-pasien ini selalu menghindar
dari psikiater. Beberapa bahkan memilih untuk mengambil pengobatan alternative.
Gejala Sasaran (Target Symptoms) dalam Pengobatan Gangguan
Jiwa
Berikut adalah beberapa gejala
sasaran untuk beberapa gangguan jiwa
Gangguan
Depresi
·
Simtom neurovegetatif (tidur, nafsu makan, dan lain-lain)
·
Simtom Psikomotor (Ekspresi wajah, tangan, tubuh secara
keseluruhan)
·
Perubahan suasana hati (Dari depresi menjadi irritable)
·
Perubahan konsentrasi, atensi, dan memori
·
Pikiran depresif, rasa bersalah, ruminasi (terus-menerus
mengingat hal-hal tak enak dari masa lalu)
·
Simtom psikotik
Gangguan Mania
·
Kegiatan psikomotor yang tinggi (yang harus dikurangi)
·
Pressure of speech yaitu bicara cepat,
mengalir dan penuh semangat, yang sulit dihentikan
·
Kurang tidur
Gangguan
Psikosis
Gejala sasaran pada gangguan
psikosis berhubungan dengan gejala atau simtom arousal, afek, aktivitas
psikomotor, pikiran (formal dan isi), dan penyesuaian sosial. Simtom Arousal
ditandai oleh insomnia, kecemasan, kewaspadaan, disorientasi. Simtom afek
meliputi agresivitas, kecemasan, depresi, membual, kecenderungan bunuh diri. Gangguan
motorik yang sifatnya tingkah laku agitasi akan cepat hilang namun hiperaktivitas,
stereotyping. Simtom gangguan berpikir formal terbagi atas gangguan
kelancaran berfikir dan simtom negatif.
Gangguan Cemas
Gejala dan sindrom sasaran
dari gangguan cemas adalah pengalaman subjektif yang ditandai oleh
keresahan/kekhawatiran juga ketegangan motoric, hiperaktivitas autonomic dan
kewaspadaan. Gangguan cemas spesifik terdiri dari gangguan cemas umum, gangguan
panic, fobia sederhana dan fobia social.
Efek Samping Obat Psikotropika
Efek samping
obat psikotropika bermacam-macam antara lain terjadinya hipotensi ortostatik
yaitu tekanan darah turun ketika seorang dalam posisi berdiri. Ada juga efek
samping berupa gejala neurologic seperti tremor, parkinsonisme, dyskinesia.
Adapun efek samping yang lainnya adalah gangguan autonomic, vegertatif atau
hormonal seperti mengantuk, lelah, mulut kering, sukar kencing, konstipasi,
gangguan menstruasi, perasaan mabuk.
Pengelompokan Obat Psikotropika
Dijelaskan dalam buku ini,
Maramis mengelompukkan obat psikotropik dalam 4 kelompok:
·
Penenang (tranquilizer).
Kelompok obat ini mempunyai efek anticemas, antitegang, dan atiagitasi.
·
Neuroleptik (melumpuhkan saraf). Memiliki efek
antischizophrenia, anti-psikosa, dan juga anti-cemas, anti tegang, dan
antiagitasi
·
Anti-depresan. Terdiri dari dua kelompok, kelompok timoleptika dan thimeretika. Kelompok pertama menurunkan depresi dan juga
menimbulkan efek anti cemas, anti tegang, dan anti agitasi. Kelompok kedua
mengurangi depresi dan mengaktivasi dan menghilangkan hambatan
·
Psikomimetika (meniru psikosis). Efek yang ditimbulkan adalah
gejala psikotik yang reversible.
ASESMEN DALAM
PSIKOLOGI KLINIS
Menurut
Bernstein dan Nietzel (1980) yang dijelaskan di dalam buku ini, ada empat
komponen dalam proses asesmen psikologi klinis yakni: 1) Perencanaan dalam
prosedur pengumpulan data (planning data
collection procedures); 2) Pengumpulan data untuk asesmen; 3) Pengolahan
data dan pembentukan hipotesis atau image
making dan 4) Mengkomunikasikan data asesmen baik dalam bentuk laporan
maupun dalam bentuk lisan.
Prosedur
pemeriksaan dalam psikologi klinis umumnya terdiri dari observasi, wawancara,
dan tes yang dipilih sesuai dengan pertanyaan yang harus dijawab. Untuk
efisiensi dalam proses pemeriksaan biasanya digunakan cara-cara yang dapat
memberi informasi dengan keluasan (breadth,
bandwidth) dan kedalaman (intensity,
fidelity) yang cukup.
Pada
saat akan melakukan pemeriksaan, sebaiknya disesuaikan dengan tahap perencanaan
contohnya ditentukan bagaimana wawancara dilakukan dan informasi apa yang
diutamakan. Demikian juga untuk observasi, perlu ditentukan metode dan fokus
observasi. Temuan dari observasi dan wawancara yang telah dilakukan dapat
digunakan sebagai sampel tingkah
laku, sebagai penyerta tingkah laku, atau sebagai tanda dari adanya hal yang melandasi tingkah laku itu.
Wawancara dalam Pemeriksaan
Psikologi Klinis
Wawancara untuk mendalami latar belakang masalah dan
gangguan seseorang dinamakan wawancara klinis, yang kadang-kadang dianggap sama
dengan wawancara mendalam (depth
interview). Dinamakan depth interview
karena ada asumsi bahwa latar belakang gangguan seseorang belum tentu sama
dengan apa yang dikemukakan olehnya secara sadar, sehingga pewawancara
kadang-kadang harus menggali lebih dalam. Wawancara klinis biasanya merupakan
suatu bentuk cerita (narrative) yang
diarahkan pada pengalaman klien.
Ada beberapa teknik bertanya yang dikemukakan oleh Wallen
(1956) sehubungan dengan pengambilan anamnesis di mana teknik ini dapat
digunakan sesuai dengan keperluan yang sesuai dengan situasi pemeriksaan.
Teknik-teknik bertanya tersebut adalah:
·
Narrowing questions yaitu mulai dengan
mengajukan pertanyaan luas, kemudian disusul dengan pertanyaan yang lebih
mendetail
·
Progressing questions yaitu mulai dengan
memberikan pertanyaan tentang suatu yang dekat dengan apa yang sesungguhnya
ingin diketahui, kemudian menyusul pertanyaan yang secara progresif mengarah
pada hal yang sesungguhnya ingin diketahui.
·
Embedding questions ialah menyembunyikan
pertanyaan yang lebih signifikan, ke dalam pertanyaan yang lain.
·
Leading questions yakni memberikan pertanyaan
yang terarah pada sesuatu yang ingin diketahui, dengan cara yang hati-hati.
·
Holdover questions yaitu menunda suatu
pertanyaan yang tiba-tiba mucul dalam pikiran pemeriksa, sewaktu klien sedang
menceritakan peristiwa
·
Projective questions yaitu menanyakan pendapat
klien tentang hal-hal tertentu atau orang lain, untuk mengetahui sistem nilai
klien yang diterapkan terhadap diri sendiri atau terhadap orang lain
Observasi dalam Psikologi
Klinis
Dalam metode observasi terdapat lima keadaan atau
bagaimana cara menerapkan observasi yakni dengan cara studi lapangan,
introspeksi, studi kasus, metode klinis dan metode eksperimen.
Wallen (1956) telah mengemukakan beberapa hal pokok yang
dapat dilihat dalam observasi klinis antara lain:
1.
Penampilan umum dapat berupa
penampilan fisik secara keseluruhan, misalnya bertubuh gemuk, kurus atau tinggi.
Bersamaan dengan observasi fisik harus diingat kembali data yang telah didapat
dari anamnesis yaitu pekerjaan, status perkawinan, dan sebagainya.
2.
Reaksi emosi. Dalam wawancara
pemeriksa serigkali dapat merasakan adanya suasana wawancara tertentu, misalnya
suasana lucu, sedih, tegang.
3.
Bicara, penampilan hanya dapat
memberi kesan sepintas lalu tentang seorang klien, karena penampilan itu
(misalnya dalam hal berpakaian) dan ekspresi emosi dapat diubah oleh klien yang
bersangkutan.
Pemberian Tes dalam
Pemeriksaan Psikologi Klinis
Tes yang biasanya dilakukan pada subjek untuk
pemeriksaan antara lain tes intelegensi umum, tes proyeksi, tes grafis dan
inventori kepribadian.
Pemeriksaan merupakan salah satu dari variabel yang
dapat mempengaruhi jalannya pemeriksaan. Pemeriksaan harus sadar bahwa dirinya
dapat memengaruhi tingkah laku klien atau pasien yaitu apakah pasien kooperatif
dan optimal, atau sebaliknya. Sesudahnya ada pemeriksaan yang dilakukan si pemeriksa
maka diperlukan laporan. Laporan kasus yang didasarkan atas wawancara dan
observasi meliputi:
·
Keluhan, simtom, atau masalah yang
menyebabkan klien datang
·
Kepribadian yaitu predisposisi,
tempramen, tipologi, struktur, dinamika kepribadian klien
·
Frustasi atau konflik atau stresor
terakhir yang dihadapi
·
Penyesuaian diri pada saat akhir
pemeriksaan
Laporan pemeriksaan psikologis dapat pula dibuat atas
dasar data tes yang diberikan pada subjek/klien/pasien. Kesimpulan yang
diperoleh umumnya meliputi deskripsi inteligensi dan kepribadian subjek.
Bila laporan pemeriksaan klini sakademik dibuat untuk
tujua pendidikan calon psikolog dan untuk melakukan penelitian, maka laporan
pemeriksaan klinik untuk pihak luar bertujuan untuk memberikan informasi, saran
atau jawaban terhadap masalah yang diajukan peminta laporan agar dapat
dimengerti dan bermanfaat bagi pihak yang meminta laporan tersebut. Penyampaian
hasil pemeriksaan sebaiknya dilakukan secara dua arah artinya klien tidak hanya
mendengarkan hasil tapi juga mendapatkan kesempatan untuk bertanya.
Bila bentuk hasil pemeriksaan adalah tertulis dan akan
dibaca oleh nonpsikolog, maka perlu dipertimbangkan isi laporan dan metode
menjaga kerahasiannya.
INTERVENSI DALAM PSIKOLOGI KLINIS
Secara umum, intervensi adalah upaya untuk
mengubah perilaku, pikiran atau perasaan seseorang. Salah satu contoh
intervensi adalah iklan. Iklan makanan kecil (permen, chiki) yang apabila
dilancarkan maka dapat mengubah kebiasaan makan seorang anak.
Psikoterapi merupakan salah satu intervensi dalam konteks hubungan profesional
antara psikolog dan klien atau pasien. Definisi Psikoterapi menurut Wolberg dan
Frank (1967, dalam Phares 1992) adalah suatu bentuk perilaku terhadap masalah
yang sifatnya emosional, di mana seorang yang terlatih secara sengaja membina
hubungan profesional dengan seorang klien, dengan tujuan menghilangkan,
mengubah atau memperlambat simtom, untuk mengantarai pola perilaku terganggu,
dan meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan pribadi yang positif.
Menurut
kedalamannya psikoterapi dibedakan
menjadi tiga yaitu psikoterapi suportif, psikoterapi reedukatif, dan
psikoterapi rekonstruktif. Psikoterapi suportif bertujuan untuk
memperkuat perilaku penyesuaian diri klien yang sudah baik, memberi dukungan
psikologis, dan menghindari diri dari usaha untuk menggali apa yang ada dalam
alam-bawah sadar klien. Psikoterapi reedukatif bertujuan untuk mengubah
pikiran atau perasaan klien agar ia dapat berfungsi lebih efektif. Psikoterapi
rekonstruktif bertujuan untuk mengubah seluruh kepribadian pasien/klien
dengan menggali ketidaksadaran klien, menganalisis mekanisme defensif yang
patologis, memberi pemahaman akan adanya proses-proses tak sadar, dan
seterusnya.
Pembedaan
tujuan dan tingkat psikoterapi tidak terlepas dari teori kepribadian yang
melandasinya. Teori kepribadian ini adalah psikoanalisis, teori perilaku, teori
humanistik dan fenomenologis, teori klinis-sosial, dan pendekatan sosiokultural
dalam psikologi klinis.
Nietzel
(1998) seperti yang dijelaskan dalam buku ini bahwa psikoterapi dapat dilakukan
secara individual dan dapat juga dilakukan dengan suatu orientasi sosial yakni
merupakan psikoterapi dalam kelompok, bersama pasangan atau bersama keluarga.
Penenkanan dalam terapi kelompok adalah memahami gangguan dalam relasi
interpersonal dan mengurangi gangguan itu dalam setting kelompok. Keunggulan terapi kelompok dibandingkan dengan
terapi individual adalah bahwa anggota kelompok dianggap mewakili suatu
lingkungan interpersonal dengan lebih baik daripada hanya satu orang terapis,
sehingga dapat lebih menjamin perbaikan hubungan interpersonal.
Dalam
suatu terapi adanya proses yang harus dilakukan melalui tahapan-tahapan.
Tahapan-tahapannya sebagai berikut:
1.
Pertemuan awal. Pada pertemuan ini biasanya ditanyakan
data identifikasi klien dan masalah yang dikemukakan
2.
Asesmen. Sesuai dengan tujuan kedatangan
klien, dilakukan asesmen yang dapat meliputi wawancara dan observasi, dan
pemberian sejumlah tes bila diperlukan
3.
Tujuan intervensi. Ini ditetapkan setelah
dilakukan integrasi atas data asesmen. Beberapa terapis membahas tujuan
intervensi ini bersama klien
4.
Implementasi terapi. Ini meliputi
pemberitahuan kepada klien waktu yang diperlukan dalam intervensi serta sasaran
utama terapi
5.
Mengakhiri terapi. Di sini dilakukan evaluasi
hasil terapi dan tindak lanjut yang akan dilakukan. Misalnya apakah akan ada
tindak-lanjut, perteuan dengan pihak keluarga dan lain-lain.
PENELITIAN DALAM PSIKOLOGI KLINIS
Metode
penelitian dalam psikologi klinis pada dsarnya sama dengan metode penelitian
pada umumnya, namun tujuan dan penekanannya adalah untuk keperluan populasi
khusus. Metode-metode yang digunakan ialah metode observasi, penelitian
epidmiologi, metode korelasi, penelitian longitudinal, metode eksperimen, dan
desain satu kasus.
Metode Observasi
Ada beberapa jenis observasi yakni observasi tak
sistematik, observasi alami, observasi terkendali, dan observasi pada studi
kasus
a.
Observasi tak sistematik misalnya
observasi yang dilakukan oleh pemeriksa secara kebetulan terhadap seorang
subjek saat subjek sedang menunggu giliran, atau saat subjek sedang menjalani
tes
b.
Observasi alamiah atau
naturalistik ialah yang dilakukan dalam setting
alamiah. Misalnya observasi terhadap seorang anak hiperaktif di rumahnya
sendiri atau di sekolah
c.
Observasi terkendali. Jenis
observasi ini dilakukan untuk memperbaiki observasi alami yang kurang
sistematik dengan memberi suatu “stimulus” kepada orang yang akan diamati dalam
setting alamiah
d.
Studi kasus, ialah suatu
penelitian intensif terhada satu subjek, yang bertujuan memberikan deskripsi
yang mendetail tentang subjek yang diteliti itu.
Metode
Penelitian Epidemiologis
Metode ini mempelajari
kejadian, prevalensi, dan distribusi penyakit atau gangguan dalam suatu
populasi. Metode ini biasanya dilakukan dalam bidang kedokteran untuk
mengetahui penyebaran penyakit menular dan penyakt-penyakit yang terkait dengan
kondisi daerah tertentu di Indonesia
Metode
Korelasi
Metode korelasi
memungkinkan peneliti untuk menemukan apakah suatu variabel yang satu dengan
yang lainnya berkaitan. Contohnya adalah apakah ada hubungannya antara skor tes
inteligensi dengan jenis gangguan psikiatrik tertentu.
Penelitian
Longitudinal
Desain penelitian
longitudinal meneliti sejumlah orang yang sama dalam suatu kurun waktu
tertentu, misalnya meneliti kelompok lanjut usia antara tahun 2000 hingga tahun
2016. Desain longitudinal sangat penting untuk mengetahui hal-hal yang
berpengaruh pada perkembangan anak, perkembangan psikopatologi, dan lain-lain.
Metode
Penelitian Eksperimental
Untuk menguji dan
memastikan adanya suatu hubungan sebab-akibat antara dua peristiwa, maka perlu
dilakukan metode eksperimen. Dalam penelitian eksperimental ada dua hal yang
harus diperhatikan, yakni masalah validitas internal dan eksternal. Validitas
internal yaitu adanya jaminan bahwa yang menyebabkan terjadinya suatu perubahan
yang direncanakan oleh eksperimen itu adalah hanya stimulus yang diberikan dan bukan hal-hal lainnya.
Desain
Satu Kasus
Desain satu kasus
mempunyai persamaan dengan desain studi kasus dan desain eksperimental. Dalam
desain satu kasus ini, siukur perilaku individu sebelum dan sesudah perlakuan,
dan hal ini dilakukan dalam situasi eksperimen
KEKHUSUSAN
DALAM PSIKOLOGI KLINIS
Psikologi
Komunitas
Dalam tulisan ini, psikologi
komunitas akan dibahas sebagai salah satu kegiatan yang berkaitan dengan
memberi bantuan kepada orang yang mengalami gangguan emosional, penyesuaian
diri, atau masalah psikologi lainnya.
Yang dimaksud dengan Psikologi
Komunitas pada umumnya adalah suatu pendekatan terhadap kesehatan mental
seseorang yang menekankan pada peran daya lingkungan dalam menciptakan dan
mengurangi masalah.
Seperti yang dijelaskan dalam buku
ini, Bloom mengemukakan perbedaan antara layanan psikologi tradisional dengan
layanan pendekatan kesehatan mental komunitas. Penekanan pendekatan kesehatan
mental komunitas adalah:
1.
Intervensi dalam komunitas
2.
Intervensi dilakukan dalam populasi
terbatas, misalnya high-risk population
3.
Penekanan pada pencegahan
4.
Promosi pelayanan tak langsung,
seperti mengadakan konsultasi dan pelatihan
5.
Pelaksanaan oleh ahli dari berbagai
bidang ilmu dan awam
Ada beberapa konsep yang sangat
melekat pada pendekatan psikologi komunitas, yaitu pencegahan dan pemberdayaan.
Pencegahan gangguan jiwa bertujuan untuk menghemat biaya perawatan penderita.
Pemberdayaan manusia dalam masyarakat bertujuan untuk mempertahankan kesehatan
dan mencegah penyakit jiwa.
Pencegahan
Ada tiga jenis pencegahan yaitu
primer, sekunder, tersier. Pencegahan primer adalah upaya melawan
keadaan yang memungkinkan timbulnya gangguan sebelum gangguan itu terjadi. Yang
termasuk dalam pencegahan primer yaitu pemberian gizi bagi balita, imunisasi,
konseling pranikah. Pencegahan sekunder adalah usaha diagnosis dini atas
suatu keadaan dan bertujuan agar dapat dilakukan terapi pada tahap dini atau
tahap awal gangguan, misalnya deteksi suatu keadaan gangguan neurologis minimal
yang dapat ditindaklanjuti segera pada tahap awal. Pencegahan tersier
adalah upaya rehabiltasi terhadap orang-orang yang memerlukan penyesuaian
kembali karena penyakit atau trauma yang pernah dialaminya, misalnya berupa
konseling, pelatihan dan lain-lain.
Pemberdayaan
Pemberdayaan adalah upaya mencegah
terbentuknya perasaan tak berdaya dan pasrah pada individu atau kelompok individu
yang terkena suatu dampak perubahan lingkungan yang merugikan (korban penipuan,
kesewenang-wenangan). Ada beberapa kelompok rentan dalam masyarakat yang perlu
diperhatikan misalnya, remaja yang rentan terhadap pengaruh sebayanya yang
mengonsumsi narkoba, lanjut usia yang terlempar dari keluarganya sendiri,
tenaga kerja wanita yang diekspor ke
luar negeri tanpa bekal pengetahuan dan kompetensi yang memadai.
Adapun metode-metode intervensi dan
perubahan dalam pendekatan komunitas meliputi konsultasi, mengadakan layanan
masyarakat sebagai ‘pengganti’ layanan rumah sakit, intervensi krisis (memberi
bantuan dan dukungan kepada orang-orang dalam keadaan stres akut agar mereka
terhindar dari gangguan yang lebih parah dan menahun), intervensi pada usia dini
(penyuluhan gizi, imunisasi, kesehatan), dan pengembangan berbagai program
pelatihan upaya pemberdayaan masyarakat.
Psikologi
Kesehatan
Psikologi Kesehatan dalam latar
belakang sejarahnya Psikologi Klinis sudah dikenal dengan nama Medical Psychology, dan sekarang selalu
dikaitkan dengan Behavioral Medicine.
Dasar pemikiran Psikologi Kesehatan adalah adanya hubungan antara pikiran
manusia dan tubuhnya. Selain itu, Psikologi kesehatan memberi sumbangan pada
peningkatan promosi kesehatan, dan pencegahan serta penyembuhan penyakit.
Psikosomatik
dan Psikologi Kesehatan
Hubungan antara pikiran (mind) dan perilaku dinamakan dengan
psikosomatik, yang dalam ilmu kedokteran merupakan salah satu subspesialisasi
Ilmu Penyakit Dalam. Menurut pendekatan Psikosomatik, gangguan psikologis yang
spesifik akan menimbulkan penyakit spesifik pula, misalnya gangguan emosi
seperti menekan rasa sedih dan keinginan menangis, dapat muncul sebagai gejala
asma; kemarahan yang tertahan muncul dalam tekanan darah tinggi.
Intervensi
dan Pencegahan dalam Perspektif Psikologi Kesehatan
Untuk keperluan pencegahan dan
promosi kesehatan perlu dilakukan teknik-teknik yang kebanyakan berasal dari
pendekatan belajar. Teknik-teknik ini antara lain: kondisioning responden,
relaksasi, strategi kognitif, metode pengelolaan diri.
Upaya mengurangi perilaku yang
mengandung resiko menimbulkan penyakit, upaya mengikuti dan mempertahankan
perawatan dan pengobatan agar penyakit tidak kambuh atau menjadi semakin parah,
merupakan tujuan dari kegiatan pencegahan. Diantaranya adalah makan makanan
sehat, latihan fisik, dan mengurangi stres.
Neuropsikolgi
Neuropsikologi mempelajari tentang
hubungan antara otak dan perilaku, disfungsi ota dan defisit perilaku, dan
melakukan asesmen dan treatment untuk
perilaku yang berkaitan dengan fungsi otak yang terganggu.
Daerah-daerah tertentu otak
memiliki fungsi-fungsi tertentu. Daerah frontal diduga berfungsi sebagai
komparator dan mampu mengatasi inertia. Kerusakan pada bagian ini menimbulkan frontal lobe syndrome yang ditandai
dengan menurunnya beberapa fungsi seperti:pengendalian impuls, penilaian
sosial, kemampuan membuat rencana, apatis, curiga, kepedulian akan akibat
perilaku.
Ada juga gangguan temporal lobe personality yang diduga
berkaitan dengan fungsi linguistik. Simtomnya antara lain: selalu memberi makna
personal dan emosional atau peristiwa biasa sehingga menimbulkan kesan
paranoid, kecenderungan terpaku pada suatu hal, dan menunjukkan perilaku hypergraphic.
Psikologi
Forensik
Psikologi forensik adalah interface dari Psikologi dan Hukum, dan
merupakan aplikasi pengetahuan psikologi, khususnya psikologi klinis, pada
masalah-masalah yang dihadapi jaksa, polisi, dan lain-lain untuk penyelesaian
masalah yang berhubungan dengan keadilan sipil, kriminal, dan administratif.
Bidang yang dinamakan psikologi
forensik mencakup peran psikolog dalam menentukan beberapa hal penting, yaitu
(Phares, 1992):
1.
Psikolog dapat menjadi saksi ahli
2.
Psikolog dapat menjadi penilai
dalam kasus-kasus kriminal
3.
Psikolog dapat menjadi penilai bagi
kasus-kasus madani
4.
Psikolog dapat juga memperjuangkan
hak untuk memberi/menolak pengobatan bagi seseorang.
5.
Psikolog diharapkan dapat
memprediksi bahaya yang mungkin berkaitan dengan seseorang
6.
Psikolog diharapkan dapat
memberikan treatment sesuai dengan
kebutuhan
7.
Psikolog diharapkan dapat
menjalankan fungsi sebagai konsultan dan melakukan penelitian di bidang
psikologi forensik
Dijelaskan dalam buku ini bahwa Nietzel
dkk (1998) menyimpulkan bahwa ada lima pokok bahasan psikologi forensik, yaitu:
1.
Kompetensi untuk menjalani proses
pengadilan serta tanggung jawab kriminal
2.
Kerusakan psikologis yang mungkin
terjadi dalam pengadilan sipil
3.
Kompetensi sipil
4.
Otopsi psikologis dan criminal profiling
5.
Hak asuh anak dan kelayakan orang
tua (parental fitness)
Psikologi
Klinis Anak dan Pediatri
Perhatian yang besar pada
kekhususan psikologi untuk anak berkembang karena beberapa temuan, yaitu:
1.
Bertambah banyaknya kasus
psikopatologi anak, yakni 22%
2.
Banyak gangguan yang terjadi pada
anak-anak yang mempunyai konsekuensi serius pada usia dewasa
3.
Kebanyakan gangguan pada masa
dewasa mungkin berasal dari masalah pada kanak-kanak yang tidak terdiagnosis
4.
Perlu dilakukan intervensi untuk
mencegah berlanjutnya suatu gangguan pada anak sampai dewasa.
Meskipun penekanan pada Psikologi Klinis-Anak dan Psikologi Pediatri berbeda, tetapi tetap terjadi tumpang tindih antara keduanya. Secara umum keduanya memperhatikan perspektif perkembangan untuk menentukan ada atau tidaknya gangguan.
No comments:
Post a Comment
Terima Kasih sudah berkunjung di blog saya. Silahkan berkomentar dengan sopan. Dan semoga bermanfaat